BERANDA.CO – Borneo International Fashion Festival (BIFF) direncanakan bukan sekadar menjadi panggung fashion, tetapi langkah awal membangun ekosistem industri kreatif Kalimantan Timur yang menghubungkan wastra, kriya, UMKM, pendidikan, pariwisata hingga peluang pasar internasional.
Bahkan, BIFF direncanakan menjadi agenda tahunan yang berlanjut hingga 2027 dan tahun-tahun berikutnya. Gagasan tersebut disampaikan Kepala Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disperindagkop UKM) Provinsi Kalimantan Timur, Heni Purwaningsih.
Heni mengatakan, rencana menjadikan BIFF sebagai agenda rutin telah dibahas dalam audiensi bersama Ketua Dekranasda Kaltim, Sarifah Suraidah. Menurutnya, kesinambungan festival penting agar Kaltim tidak hanya menjadi penonton ketika sebuah event berskala nasional dan internasional telah berkembang menjadi besar.
Ia menilai keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) juga menjadi salah satu konteks penting dalam pengembangan potensi wastra dan kriya Kaltim. Karena itu, BIFF diharapkan mampu menjadi salah satu acuan dalam mengembangkan kekuatan daerah tersebut.
“Memang BIFF ini event pertama di 2026. Tapi kemarin audiensi dengan Ibu Ketua Dekranasda Kalimantan Timur, agenda ini direncanakan akan menjadi agenda tahunan,” ujar Heni.
Menurut Ketua Harian Dekranasda Kaltim ini, konsep BIFF tidak boleh berhenti pada fashion show. Festival tersebut perlu menjadi titik temu berbagai unsur yang membentuk sebuah ekosistem fashion, mulai dari pelaku usaha, lembaga pembina, media, komunitas hingga sektor lain yang memiliki keterkaitan.
Heni menyebut sektor pariwisata dan pendidikan juga perlu dilibatkan dalam ekosistem tersebut. Pembinaan bahkan diharapkan dapat dimulai sejak generasi muda agar mereka mengenal kekayaan wastra, budaya dan seni yang dimiliki Kalimantan Timur.
Dengan pola tersebut, pengembangan BIFF tidak hanya diarahkan untuk pelaku UMKM, tetapi juga membangun rantai pembinaan yang lebih luas dan berkelanjutan.
“Kalau tadi kita bicara BIFF itu tidak hanya event fashion show, tapi bagaimana di situ ada penggerakan ekosistem fashion,” katanya.
Heni berharap keterhubungan antarsektor tersebut pada akhirnya dapat memberikan dampak terhadap penciptaan dan pertumbuhan ekonomi daerah. Menurutnya, ketika BIFF dilaksanakan secara rutin dan semakin berkembang, perhatian berbagai pihak terhadap potensi industri kreatif Kaltim juga akan semakin besar.
Karena itu, ia menilai persiapan ekosistem harus dimulai sejak sekarang, bukan ketika BIFF sudah tumbuh menjadi event besar. Dunia pendidikan, pelaku seni, pengrajin wastra, komunitas serta instansi yang memiliki fungsi pembinaan perlu bergerak secara beriringan.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Chairman sekaligus Founder BIFF 2026, Yulia Hadi, yang menempatkan festival sebagai platform yang mempertemukan fashion, budaya, industri kreatif, pariwisata dan peluang bisnis dalam satu panggung bertaraf internasional.
Yulia mengatakan Kalimantan Timur memiliki kekayaan budaya, wastra, kriya serta talenta kreatif yang layak diperkenalkan lebih luas. Melalui BIFF, ia ingin membuka peluang bagi desainer, UMKM, pengrajin, model dan generasi muda untuk berkembang, berkolaborasi dan menembus pasar internasional.
Ia juga mengajak dunia usaha, sponsor dan mitra strategis ikut membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan.
“Setiap karya memiliki cerita, dan setiap cerita layak mendapatkan panggungnya sendiri,” ujar Yulia.


