spot_img

4 Hari Borneo International Fashion Festival Angkat Wastra Kaltim ke Dunia

BERANDA.CO – Borneo International Fashion Festival (BIFF) diproyeksikan menjadi ruang baru bagi pelaku wastra, kriya, fashion, UMKM dan ekonomi kreatif Kalimantan Timur untuk memperluas pasar hingga tingkat internasional.

Gagasan tersebut mengemuka dalam konferensi pers BIFF yang digelar di Ruang Ruhui Rahayu, Kantor Gubernur Kaltim, Jalan Gadjah Mada, Samarinda, Kamis, 10 September 2026.

Chairman sekaligus Founder BIFF, Yulia Hadi, mengatakan festival tersebut tidak hanya dirancang sebagai perhelatan fashion, tetapi sebagai platform yang mempertemukan budaya, industri kreatif, pariwisata dan peluang bisnis dalam satu panggung bertaraf internasional.

Menurutnya, Benua Etam memiliki kekayaan budaya, wastra, kriya serta talenta kreatif yang memiliki potensi besar untuk diperkenalkan ke dunia.

Melalui BIFF, Yulia ingin membuka ruang yang lebih luas bagi desainer, pelaku UMKM, pengrajin, model dan generasi muda agar dapat berkembang, berkolaborasi serta memiliki akses menuju pasar internasional.

Ia menilai karya lokal tidak seharusnya hanya berputar di pasar daerah. Produk kreatif Kaltim perlu mendapatkan kesempatan untuk diapresiasi di tingkat nasional hingga global.

“Setiap karya memiliki cerita, dan setiap cerita layak mendapatkan panggungnya sendiri,” ujar Yulia.

Ia juga mengajak dunia usaha, sponsor dan mitra strategis untuk terlibat dalam membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan. Kolaborasi tersebut dinilai penting agar kreativitas dan budaya tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi investasi jangka panjang bagi generasi mendatang.

“Mari kita saksikan kreatifitas, lestarikan budaya, dorong inovasi, dan semangat membawa nama Borneo semakin dikenal di panggung internasional,” tegasnya.

4 Hari Borneo International Fashion Festival Angkat Wastra Kaltim ke Dunia
Chairman Festival Indonesia di Melbourne, Cely Goeltom . (Foto: Abe)

Sementara itu, Chairman Festival Indonesia di Melbourne, Cely Goeltom, menyambut peluang BIFF sebagai pintu masuk untuk memperkenalkan potensi wastra Kalimantan ke Australia.

Menurut Cely, Festival Indonesia di Melbourne memiliki misi memperkenalkan Indonesia melalui berbagai sektor, mulai dari investasi, perdagangan dan pariwisata hingga kuliner dan fashion.

BACA JUGA  Agusriansyah Dorong Perbaikan Pendidikan Kaltim: Tak Cukup Sekadar Bebas SPP

Ia menilai Melbourne menjadi salah satu pasar potensial karena karakter masyarakatnya yang multietnis dan relatif terbuka terhadap berbagai produk serta kebudayaan.

Cely bahkan mengundang BIFF dan pelaku kreatif dari Kalimantan untuk mengambil bagian dalam Festival Indonesia di Melbourne. Jika tahun ini waktunya dinilai cukup terbatas, ia mendorong partisipasi yang lebih penuh dari Kalimantan pada 2027.

Agenda tersebut, kata dia, tidak hanya diarahkan untuk memperkenalkan budaya dan pariwisata, tetapi juga membuka peluang investasi, pemasaran dan hubungan bisnis antarpelaku usaha atau business to business (B2B).

“Kami ingin mengundang agar partisipasi penuh dari Kalimantan itu untuk tahun 2027,” katanya melalui aplikasi zoom meeting.

4 Hari Borneo International Fashion Festival Angkat Wastra Kaltim ke Dunia
Konsul Jenderal RI Melbourne, Y. Jatmiko Heru Prasetyo. (Foto: Abe)

Dukungan terhadap penyelenggaraan BIFF juga disampaikan Konsul Jenderal RI Melbourne, Y. Jatmiko Heru Prasetyo. Ia menilai festival tersebut semakin bermakna karena menjadi ruang untuk memperkenalkan kekayaan budaya Kalimantan yang tercermin melalui motif dan karya tangan yang diwariskan lintas generasi.

Jatmiko juga mengapresiasi dukungan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kalimantan Timur terhadap para pengrajin. Menurutnya, dukungan tersebut menjadi sinyal bahwa karya para pelaku kriya memiliki tempat dalam agenda pembangunan ekonomi daerah.

“Dukungan Dekranasda Kalimantan Timur merupakan isyarat penting bagi para pengrajin bahwa karya mereka mendapat tempat di dalam agenda pembangunan karya,” katanya aplikasi zoom meeting.

Ketua Dekranasda Kaltim, Sarifah Suraidah, melalui Ketua Harian Heni Purwaningsih, menegaskan bahwa BIFF bukan sekadar agenda festival, melainkan bagian dari gagasan untuk membawa kekayaan budaya agar tetap hidup dan relevan dengan perkembangan zaman.

Ia mengatakan wastra dan kriya Kaltim menyimpan cerita mengenai identitas, tradisi, ketekunan dan pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.

Karena itu, pelestarian budaya tidak cukup hanya dengan menjaga keberadaannya. Tradisi juga harus mampu beradaptasi dengan selera generasi muda, perkembangan industri fashion dan tuntutan kualitas pasar.

“Wastra dan kriya bukan sekadar benang, ia adalah identitas yang dapat dikenalkan, cerita yang dapat dilihat, dan budaya yang dapat dirasakan,” kata Heni.

BACA JUGA  Kemenag Kaltim Terus Jaga Kerukunan dan Tradisi Pesantren

Menurutnya, BIFF menjadi ruang pertemuan antara tradisi dan inovasi, pengrajin dan desainer, serta karya lokal dengan pasar yang lebih luas.

Dekranasda Kaltim berharap para pengrajin tidak hanya berperan sebagai penjaga tradisi, tetapi juga berkembang menjadi pelaku ekonomi yang memiliki daya saing. Di sisi lain, desainer didorong mampu mengolah identitas daerah menjadi karya fashion yang dapat diterima pasar dunia.

Heni menekankan pembangunan ekosistem ekonomi kreatif membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah berperan menyediakan ruang dan kebijakan, dunia usaha membuka akses pasar, perbankan mendukung pembiayaan, desainer menghadirkan inovasi, pengrajin menjaga kualitas, komunitas menghidupkan kreativitas, sedangkan media memperluas cerita dan jangkauan karya.

Ia berharap BIFF 2026 tidak berhenti sebagai event yang meriah selama penyelenggaraan. Festival tersebut diharapkan meninggalkan dampak berupa kolaborasi baru, terbukanya akses pasar, meningkatnya apresiasi terhadap wastra dan kriya daerah serta tumbuhnya kepercayaan diri pelaku kreatif Kaltim untuk naik ke panggung yang lebih tinggi.

“Semoga BIFF menjadi lebih besar, menjadi gerakan untuk menghidupkan kreativitas, memperkuat identitas, membuka peluang, dan mengangkat karya Kalimantan Timur ke tingkat yang lebih tinggi,” tandasnya.

Nampak hadir pada kegiatan tersebut Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaltim, Ririn Sari Dewi, Perwakilan Dekranasda Kabupaten/Kota, Perwakilan Bank Indonesia di Kaltim, dan sejumlah pihak terkait. Konferensi pers juga diikuti peserta secara daring melalui aplikasi Zoom Meeting.

BIFF sendiri dijadwalkan berlangsung selama empat hari, 1–4 Oktober 2026, di Odah Etam, Kantor Gubernur kaltim, Samarinda.

Penyelenggaraan festival tersebut diharapkan menjadi langkah awal untuk memperkuat posisi kaltim sebagai salah satu daerah yang memiliki potensi dalam pengembangan fashion, industri kreatif dan ekonomi berbasis budaya.

(Abe)

Facebook Comments Box

  Yuk gabung ke Chanel WhatsApp Beranda.co!

spot_img

Baca Juga

Artikel Terkait

google-site-verification=2BD9weAnZwEeg5aPSMuk5688uWcb6MUgj2-ZBLtOHog