BERANDA.CO – Minyak jelantah yang selama ini kerap berakhir sebagai limbah rumah tangga dikenalkan sebagai bahan yang masih bisa dimanfaatkan. Mahasiswa KKN Tematik Lingkungan Hidup (KKN T-LH) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kelompok 10 Kelurahan Mentaos mengajak warga mengolah minyak bekas memasak tersebut menjadi lilin aromaterapi.
Kegiatan berlangsung melalui workshop di Pendopo Fasilitas Umum (Fasum) Komplek Meranti Griya Asri 2, Minggu (2/8/2026). Warga tidak hanya mendapat penjelasan, tetapi juga mengikuti langsung proses pembuatan lilin dari minyak jelantah.
Workshop tersebut menjadi bagian dari program KKN T-LH ULM Kelompok 10 yang berfokus pada edukasi dan pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat.
Selain praktik membuat lilin aromaterapi, mahasiswa juga melakukan sosialisasi pemilahan sampah rumah tangga secara door to door. Dua kegiatan itu diarahkan untuk mengenalkan kebiasaan pengelolaan limbah yang dapat dimulai dari lingkungan tempat tinggal.
Minyak jelantah sendiri merupakan limbah cair yang berasal dari aktivitas memasak. Jika dibuang terus-menerus ke saluran air atau lingkungan, limbah tersebut berpotensi menimbulkan persoalan lingkungan.
Melalui pemanfaatan kembali, mahasiswa mengajak warga melihat minyak bekas memasak dari sudut pandang berbeda. Bahan yang biasanya dianggap tidak berguna tersebut masih dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Minyak Jelantah Diolah Jadi Lilin Aromaterapi
Dalam workshop, mahasiswa memperagakan proses pembuatan lilin aromaterapi secara bertahap, kemudian warga mengikuti praktik tersebut.
Minyak jelantah terlebih dahulu dijernihkan menggunakan arang dan bleaching earth. Kedua bahan tersebut digunakan sebagai adsorben untuk membantu mengurangi sebagian pengotor, zat yang menyebabkan warna, serta komponen tertentu yang dapat memengaruhi aroma minyak.
Setelah melalui proses penyaringan, minyak yang telah dijernihkan kemudian dicampurkan dengan stearic acid. Bahan ini memiliki titik leleh lebih tinggi dibandingkan minyak sehingga membantu membuat campuran lebih keras sekaligus meningkatkan titik lelehnya.
Campuran selanjutnya diberi essential oil untuk menghasilkan aroma dan pewarna agar tampilan lilin lebih menarik. Setelah dicetak dan didinginkan, campuran berubah dari bentuk cair menjadi padat hingga menghasilkan lilin aromaterapi.
Proses tersebut membuat warga memperoleh pengalaman langsung dalam mengubah limbah minyak bekas memasak menjadi produk baru.
Devina, salah satu mahasiswa KKN T-LH ULM Kelompok 10, mengatakan kegiatan tersebut menjadi sarana untuk menunjukkan bahwa limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan.
“Kami ingin mengajak masyarakat untuk tidak langsung membuang minyak jelantah setelah digunakan. Minyak jelantah masih bisa dimanfaatkan menjadi produk sederhana seperti lilin aromaterapi. Selain itu, kami juga mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pengelolaan sampah dan limbah yang berasal dari rumah,” ujar Devina mahasiswi KKN Kelompok 10 ULM.
Edukasi Pengelolaan Limbah Dimulai dari Rumah
Pemanfaatan minyak jelantah menjadi lilin aromaterapi menjadi salah satu bentuk pengenalan prinsip Reduce, Reuse, dan Recycle atau 3R. Dalam praktik kali ini, mahasiswa menitikberatkan pada aspek reuse atau pemanfaatan kembali limbah yang masih memiliki nilai guna.
Sementara itu, edukasi pemilahan sampah dilakukan melalui sosialisasi door to door sebagai kegiatan tersendiri. Warga dikenalkan pada pentingnya memisahkan sampah padat berdasarkan jenisnya serta mengelola minyak jelantah agar tidak langsung dibuang ke lingkungan.
Pendekatan tersebut membuat edukasi lingkungan tidak berhenti pada persoalan membuang dan memilah sampah. Masyarakat juga diajak melihat kemungkinan bahwa sebagian limbah rumah tangga masih dapat dimanfaatkan menjadi sesuatu yang baru.
Pada akhir kegiatan, warga mendapatkan lilin aromaterapi hasil pengolahan minyak jelantah. Mahasiswa juga memberikan tanaman sebagai bentuk apresiasi sekaligus pengingat agar kepedulian terhadap lingkungan terus dilanjutkan di rumah.
Tanaman tersebut menjadi simbol bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah, tidak membuang minyak jelantah sembarangan, memanfaatkan kembali limbah dan merawat tanaman dapat dilakukan dari lingkungan tempat tinggal.
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, mahasiswa KKN T-LH ULM Kelompok 10 berharap pengetahuan yang diperoleh warga Mentaos tidak berhenti ketika workshop berakhir.
Kebiasaan mengelola limbah rumah tangga diharapkan dapat terus diterapkan dalam aktivitas sehari-hari, sehingga kepedulian terhadap lingkungan tumbuh menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat.


