spot_img

Mendulang Intan Resmi Jadi Warisan Budaya Nasional, Pertama bagi Banjarbaru

BERANDA.CO – Dari Kampung Pumpung, Kecamatan Cempaka, sebuah tradisi yang telah melekat dalam kehidupan masyarakat pendulang intan akhirnya mendapat pengakuan di tingkat nasional. Mendulang Intan resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia Tahun 2026 oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia.

Penetapan ini menjadi catatan sejarah tersendiri bagi Kota Banjarbaru. Untuk pertama kalinya, tradisi budaya asal kota tersebut berhasil masuk dalam daftar Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Lebih dari sekadar pengakuan administratif, penetapan Mendulang Intan membawa perhatian kembali pada pengetahuan tradisional, nilai sejarah, serta praktik kehidupan masyarakat Kampung Pumpung yang selama ini menjaga tradisi pendulangan secara turun-temurun.

Pengakuan tersebut ditetapkan melalui sidang tingkat nasional yang berlangsung pada Kamis (5/11/2026) di POP Hotel, Jalan H. Djok Mentaya, Banjarmasin.

Berdasarkan daftar 23 karya budaya asal Kalimantan Selatan yang mengikuti proses penetapan WBTb Indonesia Tahun 2026, Mendulang Intan tercatat sebagai salah satu usulan yang berasal dari Kota Banjarbaru.

Sebelum sampai pada tahap penetapan, usulan tersebut terlebih dahulu melewati proses penilaian oleh Tim Ahli Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Dari sejumlah usulan yang diajukan Kalimantan Selatan, sebanyak 23 karya budaya dinyatakan memenuhi tahapan untuk disidangkan di tingkat nasional.

Dari Tradisi Pendulang Intan Menuju Pengakuan Nasional

Bagi masyarakat Kampung Pumpung, Mendulang Intan bukan sekadar aktivitas mencari batu mulia. Tradisi ini menyimpan pengetahuan lokal, keterampilan, serta pengalaman hidup masyarakat yang tumbuh bersama kawasan pendulangan intan di Kecamatan Cempaka.

Perjalanan tradisi tersebut hingga mendapatkan pengakuan nasional tidak terlepas dari keterlibatan berbagai pihak yang berupaya menjaga keberlangsungannya.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kota Banjarbaru, Noor Purbani Sukma Alamsyah, S.T., menyebut penetapan tersebut sebagai pencapaian bersejarah. Ia menilai keberhasilan ini merupakan hasil inisiasi Wali Kota Banjarbaru serta partisipasi komunitas dan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) Kota Banjarbaru.

BACA JUGA  Burdah Keliling 2026, Warga Loktabat Utara Hidupkan Tradisi di Malam Arba’ Mustamir

Menurutnya, usulan Mendulang Intan sebenarnya telah diajukan sejak 2025. Namun, saat itu prosesnya menghadapi kendala terkait isu kerusakan lingkungan akibat aktivitas penambangan.

Peran komunitas yang aktif berkegiatan di Pumpung Creative Space kemudian menjadi salah satu bagian penting dalam membangun kembali perhatian terhadap kawasan tersebut.

“Mendulang Intan masuk Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) tingkat Nasional dan ini adalah WBTB Pertama untuk Kota Banjarbaru. Alhamdulillaah, ini tidak lepas dari inisiasi Ibu Walikota dan partisipasi kawan-kawan Komite Ekonomi Kreatif (KEK) kota Banjarbaru, karena usulan ini sebenarnya sudah masuk di tahun 2025 kemaren, tapi saat itu terkendala isu kerusakan lingkungannya akibat aktifitas penambangan, namun dengan giat-giat Komunitas di Pumpung Creative Space, isu lingkungan tersebut dapat tercover. Terima Kasih atas segala dukungan semuanya,” ungkap Noor Purbani.

Keberhasilan ini sekaligus memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak hanya berkaitan dengan menjaga tradisi agar tetap dikenal. Ada pula tanggung jawab untuk memastikan lingkungan dan ruang hidup masyarakat yang menjadi bagian dari tradisi tersebut tetap mendapat perhatian.

Pumpung Creative Space Hidupkan Potensi Lokal

Di balik pengakuan terhadap Mendulang Intan, terdapat upaya menghidupkan kembali ruang-ruang kreatif di kawasan Kampung Pumpung.

Salah satunya melalui Pumpung Creative Space, sebuah ruang aktivitas kreatif berbasis komunitas yang memanfaatkan kawasan pendulangan sebagai tempat berkegiatan.

Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru sekaligus Koordinator Wilayah Indonesia Creative Cities Network (ICCN) Kalimantan Selatan, Narwanto, menjelaskan bahwa konsep cipta ruang atau placemaking dapat menjadi pendekatan untuk mengoptimalkan potensi kawasan lokal.

BACA JUGA  Cempaka Living Museum: Ketika Tambang Intan Lama Mencari Panggung Baru di Era Wisata Budaya

Menurutnya, ruang kreatif tidak selalu harus dibangun dari fasilitas baru. Ruang yang telah tersedia, baik di dalam maupun luar ruangan, dapat dimanfaatkan untuk menghadirkan aktivitas yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

“Selama ini di jejaring ICCN kami selalu berupaya untuk menjadikan konsep cipta ruang menjadi solusi ruang-ruang kreatif dan itu bisa memanfaatkan ruang yang ada, baik indoor maupun outdoor. Pumpung Creative Space menjadi salah satu cipta ruang outdoor yang digerakkan komunitas di Kampung Pumpung Pendulangan Intan tradisional,” jelas Narwanto.

Keberadaan ruang tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan berbagai kegiatan. Tidak hanya sebagai lokasi aktivitas kreatif, Pumpung Creative Space juga berpotensi menjadi tempat edukasi, interaksi sosial, promosi kebudayaan, hingga penguatan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal.

Pendekatan ini sekaligus memberikan perspektif baru terhadap kawasan pendulangan intan. Pumpung tidak hanya dikenal karena aktivitas mencari intan, tetapi juga memiliki potensi sebagai ruang tumbuhnya kreativitas dan kegiatan budaya masyarakat.

Pengakuan Pertama, Tantangan Pelestarian Berikutnya

Bagi Banjarbaru, keberhasilan Mendulang Intan masuk dalam daftar WBTb Indonesia menjadi langkah awal untuk memperluas perhatian terhadap kekayaan budaya lokal lainnya.

Narwanto menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pengusulan hingga penetapan. Ia secara khusus menyampaikan ucapan selamat kepada masyarakat Kampung Pumpung yang selama ini menjadi bagian dari keberlangsungan tradisi tersebut.

“Sebelumnya selamat untuk Banjarbaru terutama warga kampung Pumpung dan terima kasih untuk semua yang terlibat dalam penetapan ini. Tentu harapannya setelah mendapatkan WBTb pertamanya bisa lebih peduli dengan warisan-warisan budaya lainnya, baik benda maupun takbenda yang ada di Banjarbaru,” tandasnya.

(red)

Facebook Comments Box

  Yuk gabung ke Chanel WhatsApp Beranda.co!

spot_img

Baca Juga

Artikel Terkait

google-site-verification=2BD9weAnZwEeg5aPSMuk5688uWcb6MUgj2-ZBLtOHog