BERANDA.CO, Martapura – Di tengah perubahan pola asesmen pendidikan yang kini makin menuntut kemampuan berpikir kritis murid, puluhan guru matematika Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Banjar mulai bergerak menyesuaikan diri. Sebanyak 36 peserta yang terdiri dari guru matematika dan pengawas Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) berkumpul di Aula SMPN 2 Martapura, Sabtu (16/5/2026), mengikuti pelatihan penyusunan soal berstandar Tes Kemampuan Akademik (TKA) berbasis literasi dan konteks lingkungan lahan basah.
Kegiatan Pelatihan Mendesain Soal Literasi Matematika Berkonteks Lingkungan Lahan Basah Bagi Guru Matematika SMP Kabupaten Banjar untuk Mendukung Penyiapan TKA ini digelar oleh tim dosen Pendidikan Matematika Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin (ULM) yang melibatkan diantaranya Martin Suhendra, S.Pd., Gr., M.Pd., Prof. Dr. Sutarto Hadi, M.Si., M.Sc., Kamaliyah, S.Pd., M.Pd., dan Taufiq Hidayanto, S.Pd., M.Pd., serta melibatkan dua mahasiswa, yakni Muhammad Abdurrahman dan Muhammad Nasrullah.
Pelatihan tersebut menjadi salah satu upaya memperkuat kesiapan guru dalam menghadapi penerapan TKA yang kini lebih menitikberatkan pada kemampuan berpikir kritis, penalaran, dan pemecahan masalah murid, bukan lagi sekadar hafalan rumus semata.
Ketua Pelaksana kegiatan, Martin Suhendra, S.Pd., M.Pd., mengatakan pelatihan ini lahir dari kebutuhan mendesak untuk meningkatkan kemampuan guru dalam menyusun soal matematika yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan sehari-hari murid, khususnya di daerah lahan basah seperti Kabupaten Banjar.
“Guru masih memerlukan penguatan dalam menyusun soal kontekstual yang sesuai dengan karakteristik TKA dan memanfaatkan konteks lokal lahan basah sebagai sumber pembelajaran matematika yang bermakna,” ujar Martin.
Menurut dosen Pendidikan Matematika FKIP ULM tersebut, guru MGMP Matematika dipilih sebagai sasaran utama karena memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pembelajaran matematika di sekolah masing-masing.
Ia menilai forum MGMP menjadi ruang kolaborasi yang efektif untuk mengembangkan kompetensi guru secara bersama-sama, terutama dalam penyusunan soal berbasis literasi dan penalaran.
“Guru MGMP merupakan wadah strategis untuk pengembangan kompetensi secara kolaboratif, terutama dalam menyusun soal literasi matematika dan soal berstandar TKA yang kontekstual,” katanya.
Dalam pelatihan itu, peserta tidak hanya menerima materi teori mengenai karakteristik soal TKA dan konsep literasi matematika, tetapi juga mendapat praktik langsung menyusun soal berbasis konteks lingkungan lahan basah. Suasana pelatihan pun dibuat interaktif lewat diskusi, review soal, hingga pendampingan pengembangan instrumen penilaian.
Martin menjelaskan kegiatan tersebut juga merupakan bagian dari Program Dosen Wajib Mengabdi (PDWA) sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat, khususnya dalam peningkatan kompetensi guru di daerah.
“Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Program Dosen Wajib Mengabdi sebagai bentuk kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat,” jelasnya.
Ia mengungkapkan, salah satu tantangan terbesar guru saat ini adalah mengubah pola penyusunan soal yang sebelumnya lebih banyak berorientasi pada hafalan dan prosedur menjadi soal yang mampu mengasah daya pikir murid.
“Tantangan yang sering dihadapi guru adalah masih terbatasnya pemahaman tentang soal berbasis literasi dan penalaran, serta kebiasaan menyusun soal yang masih berfokus pada prosedur dan hafalan,” ungkap dosen mata kuliah Perencanaan Pembelajaran Matematika dan Pembelajaran Matematika Inovatif ini.
Melalui pelatihan tersebut, para guru diharapkan mampu menghadirkan evaluasi pembelajaran matematika yang lebih hidup, dekat dengan lingkungan sekitar, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik masa kini. Apalagi konteks lahan basah yang menjadi ciri khas Kalimantan Selatan dinilai sangat potensial dijadikan sumber pembelajaran yang menarik dan tidak membosankan.
Martin pun berharap kegiatan serupa bisa terus berlanjut melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan MGMP agar pengembangan bank soal berstandar TKA di sekolah semakin kuat dan terarah.
“Guru diharapkan mampu menyusun soal yang kontekstual, berkualitas, dan relevan dengan kehidupan murid sehingga dapat meningkatkan kemampuan numerasi serta kesiapan murid menghadapi berbagai bentuk asesmen akademik,” tandasnya.
(Abe)


