BERANDA.CO – Perkembangan Mixed Martial Arts (MMA) Indonesia dinilai semakin pesat dibandingkan ketika Eko Roni Saputra pertama kali menapaki perjalanan sebagai atlet. Namun, pengalaman panjangnya berlatih dan berkompetisi di luar negeri membuat petarung asal Kalimantan Timur ini melihat masih ada sejumlah pekerjaan rumah sebelum atlet Indonesia bisa lebih konsisten bersaing di level internasional.
Roni bukan sekadar melihat perkembangan MMA dari dalam negeri. Perjalanannya membawanya berlatih selama bertahun-tahun di Singapura, termasuk di Evolve MMA, gym yang menurutnya menjadi salah satu tempat penting dalam pembentukan dirinya sebagai atlet profesional.
Dari pengalaman tersebut, Roni melihat perkembangan MMA di Indonesia sudah jauh berbeda dibandingkan masa awal kariernya.
“Kalau saya lihat, perkembangannya MMA di Indonesia sangat pesat dan jauh lebih maju,” ujar Roni.
Meski demikian, kemajuan tersebut menurutnya masih perlu diikuti dengan ekosistem kompetisi yang lebih kuat. Salah satu persoalan yang ia soroti adalah keterbatasan kompetisi lokal.
Bagi Roni, semakin banyak pertandingan berkualitas di dalam negeri akan membuka lebih banyak kesempatan bagi atlet untuk mengasah kemampuan sekaligus memperbesar peluang dilirik promotor internasional.
“Bagaimana kita bisa dilirik promotor luar negeri,” katanya.
Kompetisi Lokal Jadi Pintu Menuju Panggung Internasional
Pengalaman Roni di luar negeri membuatnya memahami bahwa perjalanan seorang atlet menuju level dunia tidak hanya ditentukan oleh kemampuan bertarung.
Kompetisi yang berkelanjutan menjadi bagian penting karena atlet membutuhkan kesempatan untuk menguji kemampuan dalam situasi pertandingan sebenarnya.
Menurut Roni, Indonesia membutuhkan lebih banyak kompetisi lokal yang dapat menjadi ruang bagi para atlet untuk membangun rekam jejak dan pengalaman bertanding.
Selain kompetisi, ia juga menyoroti pengalaman para pelatih. Menurutnya, jumlah pelatih yang memiliki pengalaman berlatih di luar negeri dan kemudian membawa pengetahuan tersebut kembali ke Indonesia masih perlu diperkuat.
Pengalaman internasional tersebut dinilai penting karena seorang atlet tidak hanya membutuhkan teknik dasar, tetapi juga pemahaman mengenai standar latihan dan persiapan yang berlaku dalam ekosistem profesional.
Bukan Sekadar Teknik, Fisik dan Nutrisi Jadi Tantangan
Roni melihat banyak atlet Indonesia sebenarnya memiliki modal teknik yang baik. Namun, untuk bersaing di level elite, kemampuan teknis saja tidak cukup.
Ia menilai atlet MMA Indonesia masih perlu meningkatkan kesiapan fisik sekaligus pemenuhan standar nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan atlet level elite.
Dalam olahraga yang menuntut kondisi tubuh prima, persiapan fisik menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari performa ketika bertanding.
Bagi Roni, peningkatan kualitas atlet harus berjalan menyeluruh. Teknik perlu berkembang, tetapi conditioning dan nutrisi juga harus mendapatkan perhatian yang sama.
Dengan persiapan tersebut, atlet diharapkan tidak hanya mampu bertanding, tetapi juga mempertahankan performa ketika menghadapi persaingan yang lebih tinggi.
Kekurangan Sparring Partner dan Jam Terbang Internasional
Tantangan berikutnya berkaitan dengan lingkungan latihan.
Roni menilai atlet yang ingin naik ke level internasional membutuhkan sparring partner dengan kualitas dan gaya bertarung yang beragam. Persoalannya, menurut dia, Indonesia masih kekurangan variasi partner latihan bertaraf dunia di dalam negeri.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap pengalaman atlet ketika menghadapi lawan dari negara lain.
Menurut Roni, menghadapi berbagai karakter dan gaya bertarung secara konsisten merupakan bagian penting dari proses pembentukan seorang petarung.
Tanpa pengalaman tersebut, atlet bisa mengalami kesulitan ketika harus beradaptasi dengan gaya bertarung yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya di arena internasional.
Karena itu, MMA internasional tidak hanya membutuhkan atlet yang memiliki teknik bagus. Atlet juga perlu dibiasakan menghadapi tekanan dan variasi permainan dari lingkungan kompetisi yang lebih luas.
Lima Tahun di Evolve MMA Mengubah Cara Pandang Roni
Pandangan Roni tersebut tidak terlepas dari pengalaman yang ia jalani sendiri ketika berada di Singapura.
Ia mengaku tidak pernah menyangka bisa berlatih di Evolve MMA. Lingkungan latihan tersebut memberikan pengalaman yang berbeda karena menurutnya para pelatih dan atlet di sana memiliki pengalaman sebagai juara dunia.
Jika sebelumnya ia hanya menjalani latihan di luar negeri selama satu atau dua bulan ketika masih menjadi atlet amatir, situasinya berubah ketika memasuki fase profesional.
Roni menghabiskan sekitar lima tahun berlatih di Singapura.
Durasi panjang tersebut membuat pengalaman yang diperolehnya jauh lebih mendalam. Bukan hanya teknik bertarung, tetapi juga fisik, mental, profesionalisme, hingga pengalaman menjalani kehidupan sebagai atlet di luar negeri.
“Saya benar-benar merasakan suka duka hidup di luar, pembentukan mentalnya,” kata Roni.
Pengalaman itu kemudian menjadi bekal ketika dirinya memasuki lingkungan kompetisi profesional.
Atlet Butuh Sistem yang Membuatnya Bisa Fokus
Bagi Roni, tantangan atlet Indonesia juga tidak berhenti di arena latihan.
Dukungan promotor, manajemen karier, hingga kepastian finansial menjadi bagian lain yang menurutnya penting untuk diperhatikan.
Seorang atlet membutuhkan kondisi yang memungkinkan dirinya berkonsentrasi penuh pada latihan dan pertandingan. Tanpa dukungan ekosistem yang memadai, persoalan di luar arena dapat ikut mengganggu proses persiapan atlet.
Karena itu, menurut Roni, perkembangan MMA Indonesia membutuhkan lebih dari sekadar bertambahnya jumlah petarung.
Kompetisi harus terus hidup. Pelatih perlu memperluas pengalaman. Atlet membutuhkan lawan tanding dengan kualitas dan variasi yang lebih tinggi. Sementara dari sisi profesional, dukungan promotor dan manajemen perlu ikut berkembang.
Perjalanan Roni dari Indonesia menuju Singapura dan berlatih selama bertahun-tahun di lingkungan MMA profesional memberinya sudut pandang berbeda.
Ia melihat MMA Indonesia sudah berkembang jauh dibandingkan masa awal dirinya sebagai atlet. Namun, pengalaman di luar negeri juga menunjukkan bahwa perjalanan menuju level dunia membutuhkan ekosistem yang lebih lengkap.
“Kemampuan atlet adalah fondasi. Tetapi untuk membawa petarung Indonesia tampil konsisten di panggung internasional, fondasi tersebut perlu ditopang kompetisi, pengalaman, kualitas latihan, nutrisi, manajemen, serta dukungan profesional yang berjalan bersama,” tandasnya.


