BERANDA.CO, Atlantik – Perjalanan mewah melintasi Samudra Atlantik mendadak berubah menjadi situasi mencekam setelah tiga penumpang kapal ekspedisi Hondius dilaporkan meninggal dunia akibat dugaan wabah hantavirus. Kasus ini langsung memicu perhatian internasional karena terjadi di tengah pelayaran panjang dari kawasan Antartika menuju Eropa.
Wabah tersebut terjadi di atas Hondius, kapal ekspedisi kutub yang dikenal membawa wisatawan menuju wilayah ekstrem dengan panorama es Antartika. Namun perjalanan yang seharusnya menjadi wisata petualangan berubah menjadi situasi darurat kesehatan setelah sejumlah penumpang mengalami gejala serius seperti demam, nyeri tubuh, hingga gangguan pernapasan berat.
Penyakit yang menyerang para penumpang diduga merupakan infeksi Hantavirus Pulmonary Syndrome yang berkaitan dengan strain Andes, salah satu jenis hantavirus yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi.
Kasus pertama dilaporkan dialami seorang pria berusia 70 tahun yang mengalami demam dan gangguan pencernaan sebelum meninggal saat kapal mendekati Pulau St. Helena. Tak lama kemudian, istrinya yang berusia 69 tahun juga meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit Afrika Selatan.
Seorang penumpang wanita asal Jerman turut dilaporkan meninggal di atas kapal pada 2 Mei 2026. Sementara beberapa penumpang lain masih menjalani perawatan intensif di Johannesburg dan Zurich. Dokter kapal yang menangani pasien juga disebut masuk dalam daftar pemantauan karena diduga ikut terpapar.
Situasi tersebut membuat World Health Organization atau WHO turun tangan memantau perkembangan kasus.
Hantavirus sendiri umumnya ditemukan di lingkungan yang memiliki populasi tikus liar tinggi. Virus menyebar melalui partikel kecil dari urin, air liur, atau kotoran hewan pengerat yang terhirup manusia. Karena itu, kemunculannya di kapal pesiar memicu perhatian para ahli epidemiologi.
Strain Andes yang kini diselidiki diketahui berbeda dari sebagian besar hantavirus lain karena diduga dapat menular antarmanusia melalui kontak dekat dalam waktu lama.
Kondisi kapal pesiar dengan aktivitas ratusan penumpang di ruang tertutup selama berminggu-minggu dinilai berpotensi mempercepat penyebaran apabila penularan antarmanusia benar terjadi.
Penyelidikan awal menyebut pasangan asal Belanda yang meninggal dunia diduga sempat mengunjungi lokasi pembuangan sampah di Ushuaia, Argentina sebelum menaiki kapal. Area tersebut dikenal memiliki risiko tinggi karena menjadi habitat tikus liar pembawa virus.
Gejala awal hantavirus sering kali menyerupai flu biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, lemas, mual, dan muntah. Namun pada kondisi berat, infeksi dapat menyebabkan paru-paru dipenuhi cairan sehingga pasien mengalami gagal napas.
Beberapa jenis hantavirus diketahui memiliki tingkat kematian mencapai 40 persen atau lebih tinggi.
Ahli epidemiologi WHO, Maria Van Kerkhove menegaskan pola penyebaran hantavirus berbeda dari COVID-19 maupun influenza.
“Ini bukan Covid, ini bukan influenza, penyebarannya sangat berbeda,” ujar Van Kerkhove dalam konferensi pers WHO pada Kamis (7/5/2026) seperti dikutip dari BBC.
Hingga kini belum tersedia vaksin maupun obat antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan medis difokuskan pada bantuan pernapasan dan menjaga fungsi organ tubuh pasien.
WHO bersama otoritas kesehatan sejumlah negara masih menyelidiki sumber utama penyebaran virus di kapal Hondius, termasuk kemungkinan penularan sebelum keberangkatan, saat singgah di daratan, atau selama pelayaran berlangsung.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit menular dapat muncul di lokasi yang tak terduga, termasuk di tengah perjalanan internasional yang jauh dari daratan. (red)


