spot_img

Hantu Banyu: Angkat Legenda Mistis, Keindahan Desa Wisata Pela dan Peran Almarhum Kadispar Kaltim

BERANDA.CO, Samarinda – Mahakama Film di Samarinda tak hanya ingin memajukan perfilman di Kalimantan Timur (Kaltim) melalui karya mereka, namun juga ingin mempromosikan potensi wisata di daerahnya. Hal ini terlihat dalam film pendek terbaru mereka, “Hantu Banyu”, yang mengangkat cerita rakyat dan keindahan Desa Wisata Pela di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).

“Hantu Banyu” merupakan hasil kolaborasi pertama antara Mahakama Film dengan Dinas Pariwisata Provinsi Kaltim. Film ini disutradarai oleh Muhammad Al Fayed dan diproduksi oleh Mahakama Film, sebuah production house lokal yang bergerak di bidang produksi kreatif sejak 2019.

Film ini mengambil dua lokasi syuting, yaitu Kota Bandung dan Desa Wisata Pela. Pemilihan Desa Pela bukan tanpa alasan, desa ini merupakan salah satu desa wisata unggulan di Kaltim dengan berbagai potensi wisata yang menarik.

“Film ini menjadi ajang promosi, karena di film ini adalah sub sektor ekonomi kreatif. Jadi itu bersinggungan disetiap komponennya,” jelas Achmad Junaidi, produser film “Hantu Banyu”.

Menariknya, film ini didominasi oleh dialog berbahasa Banjar. Jun biasa pria ini disapa bersama timnya melakukan riset terlebih dahulu dan menemukan bahwa bahasa Banjar memang digunakan oleh sebagian besar masyarakat Desa Pela.

“Justru, saya mengira desa berjarak 15 menit dari Kota Bangun ini harusnya berbahasa Kutai, tapi ternyata disana bahasa Banjar,” ujar Jun.

Penggunaan bahasa Banjar ini menjadi salah satu daya tarik film “Hantu Banyu” dan menunjukkan kekayaan budaya lokal yang dimiliki Desa Pela.

BACA JUGA  Yuk, Tunaikan Zakat Fitrah Tepat Waktu! Ini Niat dan Waktunya

Jun pun berharap film ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat tentang potensi wisata Desa Pela dan juga memajukan perfilman di Kaltim. Ia optimis bahwa dengan dukungan dari berbagai pihak, film-film berkualitas tinggi dapat terus diproduksi di Kaltim.

“Luar biasa disini saya belajar, karena sudah tidak berbicara masalah produksi tapi bagaimana masalah distribusi,” ungkapnya lagi dihadapan awak media.

Sementara itu Kepala Bidang Ekonomi Kreatif Dispar Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Zikri, memberikan apresiasi atas film “Hantu Banyu” yang telah mengangkat potensi wisata Desa Pela.

“Luar biasa sekali lewat film kita bisa membawa penonton untuk berselancar ke desa tersebut. Kita dapat mengenal kebudayaan mereka seperti apa, dan struktur geografis disana,” ucap Zikri.

Ia pun berharap agar film-film seperti “Hantu Banyu” dapat terus diproduksi untuk mempromosikan potensi wisata di Kukar dan Kaltim secara keseluruhan.

Pada akhir sesi pemutaran film “Hantu Banyu”, Jun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada sosok almarhum Ahmad Herwansyah, Kepala Dinas Pariwisata (Kadispar) Kalimantan Timur (Kaltim) atas dukungannya.

“Di akhir film, ada tampilan yang menggugah hati, di mana kita melihat almarhum Aher (sapaan Ahmad Herwansyah: red) masih sehat. Beliau akan selalu dikenang sebagai sosok yang peduli terhadap budaya dan perfilman Kaltim,” tutur Jun dengan penuh haru.

Nampak dalam film tersebut sosok Aher berperan sebagai orang tua Samar.

Film yang mengisahkan kehidupan masyarakat di pesisir Sungai Mahakam yang dihantui oleh hal-hal aneh saat seorang warga tengah menjala ikan. Dibungkus dengan kisah romansa anak muda zaman sekarang, film ini mengangkat legenda Hantu Banyu dengan sentuhan modern.

BACA JUGA  Indonesia Raya Berkumandang di ARRC Buriram, Pebalap Astra Honda Ini Bikin Bangga

Sutradara Muhammad Al Fayed mengungkapkan bahwa film ini menjadi titik awal untuk menonjolkan cerita lokal Kaltim di dunia perfilman. “Menurut saya ini menjadi titik yang baik untuk karya-karya selanjutnya, untuk menunjukan khas lokal,” kata Fayed.

Fayed juga mengungkapkan tantangannya dalam proses pembuatan film ini di antaranya keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) dan kru film, serta lokasi syuting yang jauh di luar kota, yaitu di Bandung dan Desa Pela, Kabupaten Kutai Kartanegara.

“Ingin sekali melibatkan banyak orang. Hanya terbatas anggaran, dan kemampuan kita juga dalam melibatkan banyak orang,” ungkap Fayed.

Fayed berharap film ini dapat menginspirasi masyarakat dan komunitas lain untuk berkarya. Ia juga ingin agar di karya selanjutnya, sutradara bisa berganti orang.

“Artinya, tidak harus saya menjadi sutradara. Kita sudah dititik ini, dan memulai pada starting di film sinema Kalimantan. Silahkan teman-teman memproduksi film lainnya biar lebih luas lagi,” tutupnya.

Bagi yang belum berkesempatan menonton “Hantu Banyu”, jangan khawatir!

Film ini akan ditayangkan kembali pada 4 Juli mendatang. Film yang diproduksi oleh Komunitas Layar Mahakama Samarinda bersama Dispar Kaltim ini, telah tayang perdana di Bioskop CGV Plaza Mulia Samarinda pada Kamis (27/6/2024) malam lalu. (red/abe)

Facebook Comments Box
spot_img

Baca Juga

Artikel Terkait

google-site-verification=2BD9weAnZwEeg5aPSMuk5688uWcb6MUgj2-ZBLtOHog