BERANDA.CO – Budidaya maggot diperkenalkan mahasiswa Universitas Lambung Mangkurat (ULM) kepada warga Kelurahan Landasan Ulin Tengah, Banjarbaru, sebagai salah satu alternatif pengelolaan sampah organik. Melalui kegiatan edukasi yang digelar di Gedung Serbaguna Komplek Citra Bangun Persada, Minggu (26/7/2026), masyarakat diajak mengenal potensi larva Black Soldier Fly (BSF) untuk mengolah limbah rumah tangga sekaligus menghasilkan produk bernilai guna.
Kegiatan yang dilaksanakan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik Lingkungan Hidup Kelompok 6 tersebut turut menghadirkan praktisi budidaya maggot dari TPA Banjarbakula, Teguh Suprapto. Kehadirannya memberikan gambaran langsung kepada warga bahwa pengolahan sampah organik menggunakan maggot dapat diterapkan dalam skala rumah tangga.
Mahasiswa ingin mengubah cara pandang masyarakat terhadap larva yang selama ini kerap dianggap kotor atau menjijikkan. Maggot BSF justru memiliki potensi dalam membantu penguraian limbah organik, menghasilkan pakan berprotein tinggi, serta mendukung pengolahan sisa makanan secara lebih produktif.
Program tersebut dipimpin Nor Hikmah Yulianti Irham dari Program Studi Ilmu Kelautan ULM.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah organik itu memiliki nilai guna yang besar jika dikelola dengan tepat. Melalui budidaya maggot ini, kita bisa menghasilkan pupuk kompos yang bagus untuk tanaman, sekaligus mendapatkan pakan berprotein tinggi yang sangat berkualitas bagi ikan dan unggas,” ungkap Yulianti.
Warga Belajar Proses Budidaya Maggot
Edukasi tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi. Warga juga diajak menyaksikan dan mempelajari tahapan budidaya maggot secara langsung.
Proses yang diperagakan meliputi pemilahan limbah organik rumah tangga, persiapan media budidaya, hingga perawatan larva BSF. Pendekatan praktik tersebut dilakukan agar masyarakat lebih mudah memahami dan mencoba penerapannya secara mandiri.
Melalui budidaya maggot, sisa sayuran, buah, dan limbah dapur lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari proses penguraian. Cara tersebut dinilai dapat membantu mengurangi volume sampah organik yang dibuang ke tempat pembuangan akhir.
Selain manfaat lingkungan, mahasiswa juga memperkenalkan peluang ekonomi yang dapat muncul dari pengembangan budidaya maggot. Larva yang dihasilkan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan dan unggas, sementara sisa proses budidaya dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan pertanian.
Mengenalkan Ekonomi Sirkular
Program ini juga melibatkan mahasiswa dari lintas disiplin ilmu. Nur Ridho Arif Billah dari Program Studi Teknik Lingkungan dan Arif Ridho Cahyadi dari Program Studi Kimia turut memperkenalkan konsep ekonomi sirkular kepada masyarakat.
Melalui konsep tersebut, limbah tidak dipandang sebagai sesuatu yang selesai setelah dibuang. Sampah justru dapat dikelola kembali menjadi sumber daya yang memiliki manfaat baru.
Pendekatan itu menghubungkan pengelolaan lingkungan dengan kebutuhan rumah tangga, termasuk potensi pemanfaatan sampah untuk mendukung ketahanan pangan dan menekan biaya pakan ternak.
Antusiasme warga terlihat selama kegiatan berlangsung. Salah satu perwakilan warga RT 15 Kelurahan Landasan Ulin Tengah menyebut edukasi tersebut memberikan pengetahuan baru mengenai cara pengelolaan sampah organik yang sederhana dan terjangkau.
“Kami bersyukur mendapatkan informasi dan ilmu baru terkait budidaya maggot oleh adek-adek mahasiswa KKN dari ULM Kelompok 6. Pengelolaan sampah organik, terutama sampah/limbah organik rumah tangga akan dikelola dengan mudah dan murah melalui budidaya maggot. Sosialisasi yang dilakukan merupakan inovasi kreatif yang sangat efektif, mengedukasi keluarga-keluarga, terutama ibu-ibu dalam pengelolaan sampah yang lebih bijak,” tuturnya.
Warga berharap program serupa dapat terus dikembangkan sehingga manfaatnya tidak berhenti setelah kegiatan mahasiswa selesai.
“Semoga kegiatan positif ini terus berkelanjutan dan menginspirasi kemajuan warga, terutama dalam hal kepedulian terhadap lingkungan dan tanggung jawab akan sampah pribadi yang dihasilkan. Kami dari warga RT 15 Kelurahan Landasan Ulin Tengah mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas edukasi yang telah diberikan,” tambahnya.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat Landasan Ulin Tengah didorong untuk mulai melihat sampah organik rumah tangga dari sudut pandang berbeda. Sisa makanan yang sebelumnya langsung dibuang dapat dikelola kembali melalui budidaya maggot dan menghasilkan manfaat bagi lingkungan maupun kebutuhan ekonomi.


