BERANDA.CO — Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Banjarbaru tahun ini dinilai cenderung lebih berat dibandingkan tahun sebelumnya. Kondisi cuaca panas dan kering membuat sejumlah titik kebakaran lahan masih berpotensi muncul, terutama saat angin bertiup cukup kencang.
Media dan Humas Barisan Pemadam Kebakaran Batra (BPK Batra) Loktabat Utara, Banjarbaru, Muhammad Andika Fasha, mengatakan timnya masih cukup sering terlibat dalam penanganan kebakaran lahan selama musim kemarau.
Menurutnya, BPK Batra terus meningkatkan kesiapsiagaan untuk merespons laporan masyarakat, khususnya apabila kebakaran terjadi di wilayah Loktabat Utara dan sekitarnya.
“Untuk kondisi Karhutla di wilayah Banjarbaru saat ini, khususnya berdasarkan penanganan yang kami lakukan di lapangan, situasinya masih perlu mendapat perhatian serius,” kata Andika saat dihubungi.
Ia menjelaskan, beberapa titik kebakaran lahan masih berpotensi muncul ketika suhu tinggi, angin cukup kencang dan kondisi vegetasi maupun lahan dalam keadaan kering.
Tim BPK Batra pun berupaya melakukan respons cepat setiap kali menerima laporan adanya titik api.
Empat Wilayah Jadi Perhatian
Andika mengungkapkan terdapat sejumlah kawasan yang dinilai cukup rawan mengalami kebakaran hutan dan lahan di Banjarbaru.
Empat di antaranya yakni Kecamatan Cempaka, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan Banjarbaru Selatan.
Selain kawasan tersebut, beberapa kelurahan juga disebut cukup sering mengalami kejadian Karhutla, di antaranya Guntung Manggis dan Landasan Ulin Timur.
“Wilayah yang cukup rawan saat ini antara lain Kecamatan Cempaka, Landasan Ulin, Liang Anggang, dan Banjarbaru Selatan,” ujarnya.
Kondisi tersebut membuat petugas pemadam perlu meningkatkan kewaspadaan, terlebih kebakaran di lahan terbuka berpotensi meluas apabila tidak segera ditangani.
Api Cepat Menjalar, Sumber Air Jadi Kendala
Dalam penanganan kebakaran lahan, BPK Batra menghadapi sejumlah kendala di lapangan.
Andika menyebut akses menuju lokasi kebakaran terkadang sulit dijangkau. Kondisi tersebut dapat memperlambat proses pemadaman, terutama ketika titik api berada jauh dari akses kendaraan.
Keterbatasan sumber air juga menjadi persoalan tersendiri. Ditambah kondisi lahan yang kering, api dapat lebih cepat menjalar dan membutuhkan upaya lebih besar untuk dikendalikan.
“Dalam penanganannya, kami juga menghadapi beberapa kendala, seperti akses menuju lokasi yang sulit, sumber air yang terbatas, serta kondisi lahan yang cukup kering sehingga api terkadang cepat menjalar dan sulit dipadamkan,” jelasnya.
Meski demikian, BPK Batra tetap berupaya bergerak cepat setiap kali mendapatkan informasi kebakaran dari masyarakat.
Selama musim kemarau tahun ini, keterlibatan BPK Batra dalam penanganan Karhutla disebut cukup sering, terutama ketika terdapat laporan titik api di wilayah Banjarbaru dan sekitarnya.
Tahun Ini Dinilai Lebih Berat
Andika menilai kondisi Karhutla Banjarbaru pada tahun ini cenderung lebih berat jika dibandingkan periode sebelumnya.
Menurutnya, jumlah kejadian dan luas lahan yang terbakar cukup tinggi sehingga kesiapsiagaan petugas perlu ditingkatkan.
“Kalau dibandingkan tahun sebelumnya, Karhutla di Banjarbaru tahun ini cenderung lebih berat. Jumlah kejadian dan luas lahan yang terbakar cukup tinggi,” ungkapnya.
Faktor cuaca panas dan kering turut meningkatkan risiko kebakaran. Karena itu, pencegahan tidak hanya menjadi tanggung jawab petugas pemadam, tetapi juga membutuhkan kewaspadaan masyarakat.
Andika mengimbau warga tidak melakukan pembakaran lahan maupun membuang puntung rokok sembarangan. Aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran juga diminta untuk dihindari.
Masyarakat yang menemukan asap atau titik api juga diminta segera melapor kepada petugas atau BPK terdekat.
“Apabila melihat adanya asap atau titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkan kepada petugas atau BPK terdekat agar dapat ditangani secepat mungkin,” pungkasnya.
