BERANDA.CO – Intan Trisakti yang ditemukan lebih dari enam dekade lalu kembali menjadi pintu untuk menghidupkan identitas Kampung Pumpung, Banjarbaru. Sejarah penemuan intan legendaris itu kini dikembangkan melalui Pumpung Creative Space dan Rute Jelajah Intan Trisakti sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif Banjarbaru.
Gagasan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan tempat aktivitas masyarakat. Pengembangan kawasan juga disiapkan agar sejarah, budaya, kehidupan masyarakat, hingga potensi lokal Pumpung dapat dikemas menjadi pengalaman edukatif sekaligus membuka peluang ekonomi.
Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, mengatakan penguatan identitas kota dapat dimulai dengan mengenali dan mengaktifkan kembali berbagai aset yang telah dimiliki masyarakat.
“Membangun kesadaran untuk identitas sebuah kota, bisa dimulai dari mengenali dan menghidupkan kembali aset yang dimiliki seperti aset sejarah, budaya, lingkungan, spiritual, sumber daya manusia maupun cerita-cerita yang tumbuh di masyarakat,” ujarnya saat dihubungi.
Pumpung Dikembangkan Lewat Sejarah dan Kreativitas
Pumpung selama ini dikenal sebagai lokasi penemuan Intan Trisakti. Namun, kawasan tersebut juga memiliki cerita lain yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan aktivitas pendulangan yang telah membentuk identitas kampung selama bertahun-tahun.
Melalui Pumpung Creative Space, masyarakat diharapkan memiliki ruang untuk berkegiatan dan berinteraksi. Sementara Rute Jelajah Intan Trisakti dirancang untuk mengajak pengunjung mengenal langsung sejarah dan potensi Pumpung melalui pengalaman di lapangan.
Konsep tersebut menggabungkan nilai sejarah dengan aktivitas kreatif dan pengembangan ekonomi masyarakat.
“Pumpung Creative Space sebagai ruang aktivitas kreatif masyarakat, dan Rute Jelajah Intan Trisakti sebagai pengalaman untuk mengenal sejarah Pumpung dan potensinya secara langsung di lapangan dan bagian dari upaya mengubah aset lokal menjadi sesuatu yang memiliki nilai edukasi, kebudayaan, sosial dan ekonomi,” ungkapnya.
Melalui pendekatan tersebut, kunjungan ke Pumpung diharapkan tidak hanya berorientasi pada aktivitas rekreasi atau dokumentasi visual. Pengunjung juga diharapkan dapat memahami cerita yang berada di balik penemuan Intan Trisakti dan kehidupan masyarakat setempat.
Intan Trisakti sebagai Memori Kolektif
Narwanto menilai keberadaan Intan Trisakti memiliki posisi penting dalam perjalanan sejarah masyarakat Pumpung dan Kota Banjarbaru.
Menurutnya, kisah penemuan intan tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan identitas Pumpung secara lebih luas, termasuk kehidupan para pendulang dan perkembangan masyarakat yang berada di balik peristiwa bersejarah tersebut.
“Sangat penting, karena Intan Trisakti merupakan bagian dari memori kolektif masyarakat. Karena sebagai pintu masuk untuk menceritakan identitas Pumpung dan salah satu lapisan sejarah Kota Banjarbaru menuju kota kreatif tanpa meninggalkan nilai dan kehidupan masyarakat yang berada di balik penemuan tersebut,” katanya.
Upaya tersebut juga menjadi bagian dari gagasan untuk menjaga keseimbangan antara perkembangan Banjarbaru sebagai kota modern dengan pelestarian cerita dan identitas lokal.
7 Arah Pengembangan Pumpung
Peluncuran Pumpung Creative Space dan Rute Jelajah Intan Trisakti menjadi awal dari rencana pengembangan kawasan. Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru menyiapkan tujuh langkah untuk menjaga agar program tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Tujuh arah pengembangan itu meliputi:
- Menyusun paket wisata edukasi bagi berbagai jenjang pelajar.
- Menyiapkan paket gastronomi Pumpung.
- Melatih pemandu wisata dari masyarakat lokal.
- Mendokumentasikan sejarah serta cerita masyarakat.
- Memperkuat identitas gastronomi Pumpung.
- Menyusun kalender kegiatan kreatif secara rutin.
- Memperluas jaringan dan promosi secara daring maupun luring.
Rangkaian program tersebut diharapkan mampu menciptakan aktivitas yang berkelanjutan sekaligus memberi ruang lebih besar bagi masyarakat Pumpung untuk terlibat langsung.
Narwanto menekankan, pengembangan Pumpung tidak semata-mata ditujukan untuk menarik kunjungan. Yang lebih penting, menurutnya, adalah memastikan setiap orang yang datang memahami cerita, budaya, dan kehidupan masyarakat di balik sejarah Intan Trisakti.
“Paling penting, kami ingin ketika orang datang ke Pumpung, mereka tidak hanya pulang membawa foto, tetapi pulang membawa cerita tentang Intan Trisakti, tentang masyarakat pendulang, tentang budaya Pumpung, dan tentang bagaimana sebuah kampung menjaga serta mengembangkan identitasnya untuk masa depan,” pungkas Narwanto.
