
BERANDA.CO, Samarinda — Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Sapto Setyo Pramono, menegaskan pentingnya diversifikasi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Ia menyebut bahwa selama ini ketergantungan Kaltim terhadap sektor tambang terlalu dominan, padahal ada banyak potensi ekonomi lain yang belum tergarap maksimal.
“PAD kita terlalu berat di sektor tambang. Padahal UMKM kita cukup kuat, sektor jasa juga bisa dikembangkan. Bahkan alur sungai dan laut 0 sampai 12 mil belum dimanfaatkan optimal,” kata Sapto, saat ditemui di Gedung B Badan Kesbangpol Kaltim beberapa waktu lalu.
Sapto menyoroti potensi besar dari pengelolaan Sungai Mahakam, yang selama ini belum memberi kontribusi langsung ke kas daerah. Ia mengungkapkan, alur Sungai Mahakam justru menghasilkan Rp350 miliar per tahun untuk pusat melalui PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak), tanpa retribusi daerah.
“Bayangkan, Rp350 miliar ke pusat, tapi kita di daerah tidak kebagian. Padahal, kalau kita punya Perda dan layanan di alur itu, kita bisa tarik retribusi secara sah,” ujarnya.
Ia menyambut baik langkah Pemprov Kaltim yang sedang mengevaluasi Peraturan Daerah tentang Pajak dan Retribusi. Menurutnya, daerah bisa memanfaatkan ruang tersebut selama memiliki dasar pelayanan yang jelas.
“Kalau kita bangun tambatan kapal, pelabuhan kecil, atau fasilitas lainnya di sepanjang Mahakam, kita punya dasar menarik retribusi. Potensi ini besar sekali,” tegasnya.
Namun Sapto juga menyoroti tantangan lain dalam pengelolaan PAD, yakni pada aspek sumber daya manusia dan profesionalisme. Ia menilai, masih ada penempatan jabatan strategis yang tidak berbasis kompetensi.
“Harusnya jabatan strategis diisi oleh orang yang memang profesional. Jangan lagi pakai pola siapa dekat siapa. Kita butuh SDM yang benar-benar paham soal pengelolaan pendapatan,” ucapnya.
Dengan momentum perubahan di pertengahan 2025 ini, Sapto berharap arah pembangunan ekonomi Kaltim lebih inklusif dan berkelanjutan.
“Kita ingin Kaltim punya pondasi ekonomi yang tahan krisis. Jangan terus-terusan berharap pada tambang yang bisa habis. Kita perlu sektor baru yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat,” tutupnya. (red/adv)


