BERANDA.CO, Samarinda – Di Kalimantan Timur (Kaltim) pada bulan Oktober ini angka kematina ibu mencapai 46 orang dan angka kematian bayi mencapai 302 orang, hal ini dilaporkan Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Kesehatan.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, dr Jaya Mualimin, mengungkapkan bahwa meskipun telah ada upaya peningkatan pelayanan kesehatan, angka kematian ibu dan bayi di provinsi ini masih tinggi, dan ini menjadi perhatian utama bagi pemerintah setempat.
“Angka kematian ibu dan bayi di provinsi ini masih tinggi, walau ada upaya-upaya peningkatan pelayanan kesehatan,” ungkap dr Jaya Mualimin di Samarinda.
Dalam rangkaian data yang dirilis, terlihat sebaran kematian ibu di berbagai wilayah Kaltim. Paling tinggi adalah di Samarinda sebanyak sepuluh orang, disusul oleh Kutai Timur, Kutai Kartanegara, Paser, Berau, Kutai Barat, Penajam, dan Balikpapan. Dugaan penyebab kematian ibu melibatkan berbagai faktor, termasuk pendarahan (9,2 persen), eklamsia (10,2 persen), infeksi (3,7 persen), penyakit jantung (2,4 persen), gangguan darah (2,4 persen), tuberkulosis (1,2 persen), gangguan metabolisme (2,4 persen), dan beberapa yang belum diketahui penyebabnya.
Sementara itu, untuk kematian bayi di Kaltim, totalnya mencapai 302 orang, dengan kematian bayi terbanyak terjadi di Samarinda, Kutai Kartanegara, Balikpapan, Kutai Timur, Berau, Bontang, Paser, Kutai Barat, PPU, dan Mahakam Ulu. Beberapa penyebab kematian bayi yang sering terjadi meliputi infeksi seperti tetanus, sepsis, pneumonia, dan diare, terutama di wilayah yang kurang memiliki fasilitas persalinan yang steril. Juga, bayi dengan berat badan kurang dari 2,5 kilogram lebih berisiko mengalami masalah kesehatan dan kematian.
Penyebab lainnya adalah komplikasi neonatal, masalah yang terjadi pada bayi dalam 28 hari pertama kehidupannya, seperti asfiksia kelahiran, kelainan bawaan, dan trauma kelahiran. Juga, cedera, campak, malaria, kecelakaan, kekerasan, atau kelalaian dapat menjadi faktor penyebab kematian bayi.
“Cedera, campak, malaria, kecelakaan, kekerasan, atau kelalaian juga dapat menjadi faktor menyebabkan kematian bayi,” ujarnya.
Untuk mengatasi masalah angka kematian ibu dan bayi yang tinggi, pihak Dinkes Kaltim terus berupaya meningkatkan akses dan mutu pelayanan kesehatan ibu dan anak. Masyarakat diimbau untuk lebih peduli terhadap kesehatan ibu dan bayi dengan melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin dan melahirkan di fasilitas kesehatan yang memadai. Jaya Mualimin berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan ibu dan bayi akan meningkat, sehingga tragedi kematian ibu dan bayi yang bisa dicegah atau ditangani dengan baik bisa dihindari. Ini adalah upaya yang perlu terus dilakukan untuk memastikan kesejahteraan masyarakat di Kalimantan Timur terjaga.
“Saya berharap masyarakat lebih sadar pentingnya kesehatan ibu dan bayi. Jangan ada lagi ibu atau bayi yang meninggal karena hal-hal yang sebenarnya bisa dicegah atau ditangani dengan baik,” pungkas Jaya Mualimin. (adv)


