BERANDA.CO, Samarinda – Di Kalimantan Timur, program riset SMA yang dicanangkan Dinas Pendidikan dan Kebudaayaan Kaltim perlahan membentuk ekosistem baru dalam dunia pendidikan. Upaya ini bukan sekadar proyek sekolah unggulan, tetapi sebuah strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya saing global para pelajar sejak dini. Melalui riset pendidikan yang terstruktur, siswa diarahkan untuk memahami potensi diri dan mempersiapkan masa depan secara lebih matang.
Semangat ini muncul dari pengalaman Plt Kepala Disdikbud Kaltim, Armin, setelah mengunjungi Adelaide, Australia. Di kota itu, ia menyaksikan bagaimana budaya riset tumbuh sejak siswa pertama kali memasuki jenjang SMA.
“Jadi proyek riset di SMA unggulan itu sudah mulai dicanangkan, kita adopsi dari Universitas Adelaide Australia,” kata Armin di Samarinda, Sabtu (15/11).
Terinspirasi dari model tersebut, Disdikbud Kaltim mulai menerapkan pola yang sama di sekolah-sekolah unggulan. Salah satunya adalah SMA Negeri 10 Samarinda yang kini menjadi pelopor. Sekolah ini tak hanya menjalankan proyek riset, tetapi juga merancang program berkelanjutan agar siswa dan guru terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.
Armin menyebutkan bahwa arah riset para pelajar lebih banyak berfokus pada kesiapan menghadapi kehidupan nyata—mulai dari memilih jurusan kuliah, membangun pola pikir ilmiah, hingga menentukan tujuan hidup. Pendekatan ini membuat siswa lebih mampu membaca peluang dan tantangan dalam dunia global yang kian kompetitif.
Untuk mendukung ekosistem tersebut, Disdikbud Kaltim menggandeng berbagai perguruan tinggi. Kolaborasi dengan universitas memungkinkan para akademisi ikut membimbing siswa sekaligus meningkatkan kapasitas guru dalam mengelola penelitian di tingkat sekolah.
Menurut Armin, budaya literasi dan penulisan ilmiah kini mulai terbentuk. Siswa SMA 10 sudah lebih terbiasa menulis sejak program riset pertama kali digulirkan. “Saat ini, Disdikbud Kaltim juga tengah menggalakkan penguatan kemampuan siswa dalam menulis esai,” ucap Armin.
Kemampuan menulis esai menjadi perhatian khusus karena menjadi salah satu syarat utama untuk melanjutkan studi ke luar negeri. Untuk itu, Disdikbud Kaltim mendatangkan tenaga ahli yang berpengalaman mempersiapkan siswa agar memenuhi standar internasional.
Selain itu, pemerintah provinsi terus memperkuat intervensi lewat penganggaran khusus demi memastikan program riset berjalan konsisten. Kerja sama dengan Universitas Mulawarman (Unmul) juga dijalin karena kampus tersebut dinilai paling siap dalam mendukung riset sekolah.
Program riset ini menjadi bagian inti dari Kurikulum SNP (Standar Nasional Pendidikan) Plus yang dikembangkan Disdikbud Kaltim. “Kurikulum tersebut didesain untuk melampaui standar nasional,” ujar Armin, dikutip dari sumber berita. Elemen “plus” yang dimaksud mencakup penekanan pada kemampuan riset dan keterampilan berbahasa asing—dua kompetensi penting dalam membangun budaya ilmiah yang kuat di lingkungan sekolah.
Dengan ekosistem yang semakin matang, Kalimantan Timur mulai menapaki langkah baru: mencetak generasi pelajar yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga siap bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (red)


