spot_img

Viral! Dugaan Child Grooming di SMK Samarinda Terbongkar

BERANDA.CO, Samarinda – Kasus child grooming di Samarinda menjadi perhatian publik setelah Tim Reaksi Cepat Perlindungan Perempuan dan Anak (TRC PPA) Provinsi Kalimantan Timur menerima dua laporan resmi terkait dugaan tindakan tidak pantas yang dilakukan seorang guru di salah satu SMK di Kota Samarinda.

Ketua TRC PPA Kaltim, Rina Zainun, menjelaskan laporan pertama bermula dari pesan langsung (DM) yang dikirim salah satu korban melalui media sosial.

“Awalnya korban menghubungi saya melalui DM, lalu kami lanjut komunikasi lewat WhatsApp. Kami bertemu pada 13 Februari 2026 pukul 13.00,” ungkap Rina, di kutip dari keterangannya saat dihubungi Sabtu (14/02).

Dalam pertemuan tersebut, TRC PPA bersama tim biro hukum meminta bukti-bukti yang menunjukkan adanya relasi antara korban dan terduga pelaku. Dua alumni kemudian menyampaikan pengalaman mereka, termasuk fakta bahwa hubungan tersebut terjadi tanpa sepengetahuan satu sama lain.

BACA JUGA  Gubernur Kaltim Umumkan Pencairan Dana Program Pendidikan Gratispol Rp44 Miliar untuk PTN

Menurut Rina, saat kejadian berlangsung, usia korban masih 15 tahun.

Modus Perhatian Layaknya Figur Ayah

Kasus ini mencuat setelah salah satu korban yang sempat dinikahi terduga pelaku mengetahui adanya dugaan korban baru yang masih aktif bersekolah. Kekhawatiran akan bertambahnya korban mendorong para alumni untuk berbicara.

“Tujuan mereka speak up agar tidak ada lagi korban seperti mereka,” kata Rina.

Rina mengungkapkan, modus yang diduga digunakan pelaku adalah memberikan perhatian dan kasih sayang layaknya figur ayah, khususnya kepada anak-anak yang dinilai kurang mendapatkan sosok tersebut dalam keluarga. Bahkan, korban sempat dijanjikan akan dijodohkan dengan anak laki-laki terduga pelaku.

“Semua korban ini rata-rata anak yang kurang mendapatkan figur ayah. Situasi itu dimanfaatkan. Jadi jangan pernah ada istilah suka sama suka dalam konteks anak di bawah umur,” tegas Rina.

BACA JUGA  Pembebasan Lahan Jadi Kunci Proyek Flyover Muara Rapak

Trauma Bertahan Sejak 2018

Salah satu korban yang mengalami peristiwa tersebut pada 2018 dilaporkan sempat berhenti sekolah akibat trauma berat. Ia meninggalkan Kalimantan Timur dan kembali ke Samarinda setahun kemudian.

“Ketika kemarin bercerita, dia masih terguncang dan menangis,” ungkap Rina.

Menurutnya, relasi kuasa antara guru dan murid membuat korban sulit melawan atau melaporkan sejak awal. Tekanan psikologis, rasa takut, serta kekhawatiran terhadap stigma sosial menjadi hambatan utama.

TRC PPA Kaltim menilai keberanian korban untuk bersuara sebagai bentuk kepedulian terhadap dunia pendidikan dan upaya mencegah munculnya korban baru.

“Mereka tidak ingin ada lagi oknum guru yang mencederai dunia pendidikan,” pungkas Rina. (red)

Facebook Comments Box

  Yuk gabung ke Chanel WhatsApp Beranda.co!

spot_img

Baca Juga

Artikel Terkait

google-site-verification=2BD9weAnZwEeg5aPSMuk5688uWcb6MUgj2-ZBLtOHog