BERANDA.CO, Samarinda – Di tengah tekanan yang kian terasa di industri perhotelan, terpilihnya Hendri Kurniawan sebagai Ketua DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Kalimantan Timur dalam Kongres Daerah III di Hotel Grand Verona, Sabtu (4/4/2026), diharapkan menghadirkan asa baru bagi arah masa depan industri hotel di daerah ini.
Di tengah suasana optimisme, Hendri justru membuka dengan realitas yang tidak mudah, menurutnya industri perhotelan Kaltim sedang berada dalam tekanan ganda. Persoalan utama bukan sekadar persaingan antar hotel. Lebih dari itu, terjadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan jumlah hotel dengan penurunan permintaan.
Selama ini, hotel di daerah sangat bergantung pada segmen pemerintah dan kegiatan MICE. Namun, kebijakan efisiensi anggaran membuat aktivitas perjalanan dinas dan event menurun drastis.
Dampaknya terasa langsung—tingkat hunian turun, harga kamar tertekan, dan pelaku industri dipaksa beradaptasi cepat.
Namun bagi Hendri, kondisi ini bukan akhir. Justru menjadi titik balik.
“Ini bukan hanya tantangan, tapi turning point. Kita harus menjawab dengan langkah konkret,” tegasnya saat dihubungi awak media ini.
Lima Strategi Besar: Dari Bertahan ke Menyerang
Hendri merumuskan lima strategi utama yang akan menjadi arah baru industri hotel di Kaltim.
Pertama, rebalancing market. Hotel didorong keluar dari ketergantungan pada satu segmen. Pasar leisure, komunitas, hingga event kreatif akan digarap lebih agresif.
Kedua, kolaborasi strategis dengan pemerintah. Bukan sekadar relasi bisnis, tetapi kemitraan untuk menciptakan event daerah yang mampu menggerakkan ekonomi dan meningkatkan okupansi secara berkelanjutan.
Ketiga, efisiensi cerdas. Optimalisasi operasional dilakukan melalui digitalisasi, efisiensi energi, dan pengelolaan biaya berbasis data tanpa mengorbankan kualitas layanan.
Keempat, penguatan SDM. Di tengah persaingan ketat, pelayanan menjadi pembeda utama. Pengalaman tamu harus menjadi alasan utama memilih hotel.
Kelima, perubahan mindset. Dari kompetisi menuju kolaborasi. Industri perhotelan didorong bergerak sebagai ekosistem, bukan berjalan sendiri-sendiri.
“Dan yang paling penting, kami ingin mengubah cara berpikir, dari menunggu pasar menjadi pencipta pasar, dari kompetitor menjadi kolaborator, dari pemain daerah menjadi kekuatan nasional.
Karena kalau kita serius memanfaatkan momentum IKN, memperkuat kolaborasi dengan Forkopimda, dan berani mengambil panggung nasional, maka Kaltim bukan hanya akan bertahan—tetapi akan menjadi episentrum baru industri perhotelan Indonesia,” terangnya.
Dari “Akomodasi” ke Pengalaman
Lebih jauh, Hendri menegaskan bahwa industri hotel tidak bisa lagi hanya menjual kamar.
Ia mendorong transformasi menuju experience-driven hospitality, di mana hotel menawarkan nilai, cerita, dan pengalaman khas daerah.
Dalam konteks ini, Kalimantan Timur memiliki keunggulan kuat, terutama dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN).
IKN dinilai sebagai magnet baru yang dapat menarik pasar nasional hingga internasional—mulai dari pemerintah, investor, hingga delegasi global.
Target Besar: Panggung Nasional
Salah satu langkah strategis yang disiapkan adalah mendorong Kaltim menjadi tuan rumah Rapat Kerja Nasional IHGMA.
Bagi Hendri, ini bukan sekadar agenda organisasi, tetapi peluang besar untuk menunjukkan daya saing hotel di daerah ke level nasional.
Di saat yang sama, kolaborasi dengan Forkopimda juga akan diperkuat agar industri perhotelan menjadi bagian dari agenda pembangunan daerah.
“Secara personal, ini adalah titik di mana karier tidak lagi berbicara tentang “saya”, tetapi tentang “kita”. Tentang bagaimana saya bisa membawa dampak yang lebih luas, membuka peluang, dan memperjuangkan kepentingan bersama,” ujarnya.
Di balik jabatan barunya, Hendri menyadari bahwa tanggung jawab yang diemban bukan sekadar administratif, melainkan menyangkut arah dan masa depan industri perhotelan di Kalimantan Timur.
Ia merumuskan tiga peran utama yang akan menjadi pijakan kepemimpinannya.
Pertama, sebagai jembatan. Hendri ingin memastikan bahwa jarak antara pelaku industri dan pemerintah tidak lagi menjadi sekat. Baginya, suara para General Manager hotel harus benar-benar hadir dalam setiap kebijakan, bukan sekadar didengar, tetapi juga diperjuangkan hingga menghasilkan solusi nyata di lapangan.
Kedua, sebagai penggerak perubahan. Ia menegaskan, organisasi Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) tidak boleh berhenti sebagai wadah formalitas. Lebih dari itu, IHGMA harus tampil sebagai motor yang menggerakkan inovasi, menghadirkan arah, serta memberi energi baru bagi seluruh anggotanya di tengah tekanan industri.
Ketiga, sebagai penjaga integritas dan solidaritas. Dalam situasi persaingan yang semakin ketat, Hendri menilai etika dan profesionalisme justru menjadi fondasi yang tidak boleh tergoyahkan. Ia percaya, kekuatan terbesar industri ini bukan terletak pada individu, melainkan pada soliditas komunitas yang saling mendukung.
Baginya, jabatan ini bukan sekadar posisi struktural, melainkan amanah yang harus dijawab dengan kerja nyata. Ia menegaskan, kepemimpinan menuntut keberanian mengambil keputusan sekaligus komitmen untuk selalu hadir di tengah anggota—terutama saat industri tidak sedang baik-baik saja.
“Karena pada akhirnya, kepemimpinan bukan tentang seberapa tinggi posisi kita, tetapi seberapa besar dampak yang bisa kita tinggalkan dan menjadi Legacy yang akan di lanjutkan dengan Ketua terpilih berikutnya,” demikian pesannya.
(Abe)
