BERANDA.CO, Samarinda — Di balik jawaban singkat “sering” dari seorang responden, ternyata tersimpan lautan informasi yang belum diselami.
Begitulah inti pelajaran dari teknik “Bertanya dari Jawaban”, yang dipaparkan Faisal Rahman dalam Workshop Eksplorasi Survei dan Pengolahan Data di Hotel FOX Lite Samarinda, Sabtu (1/11/2025).
Workshop yang berlangsung dari pagi hingga sore itu, mempertemukan belasan surveyor muda dengan pengalaman lapangan yang menghidupkan suasana kelas. Bukan sekadar pelatihan, tapi juga ruang berbagi cerita dan membentuk cara berpikir baru tentang makna sebuah data.
“Responden menjawab singkat, ‘sering’. Apakah jawaban ini masih bisa didalami? Tentu saja masih bisa,” ujar Faisal Rahman, editor BEKESAH.co sekaligus Pemimpin Redaksi KLIKSAMARINDA.
Faisal menjelaskan bahwa tugas surveyor sejati bukan hanya menanyakan, tapi menelisik. Dari satu jawaban bisa muncul empat pertanyaan baru.
“Sering itu berapa kali dalam sepekan? Ke mana saja rutenya? Berapa biaya yang dikeluarkan? Untuk kepentingan apa?,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa teknik seperti ini membuat data lebih kaya dan mendalam, bukan sekadar angka di atas kertas.
Seperti pepatah Melayu berkata, “takkan tahu dalamnya laut kalau tak diselami.”
Dari Kamera Ponsel Hingga Cerita di Balik Data
Dalam sesi dokumentasi, Faisal memberi contoh sederhana tapi menarik. Dengan hanya bermodalkan kamera smartphone, ia menunjukkan bagaimana sudut pengambilan bisa mengubah makna visual.
“Kamera smartphone bisa membuat objek jadi tampak cembung, megah, atau kecil, tergantung dari posisi pengambilan,” terangnya sambil mempraktikkan teknik di depan peserta.
Ia menekankan bahwa dokumentasi bukan sekadar pelengkap dalam laporan hasil survei (LHS), tapi bukti visual yang menambah kredibilitas.
“Dokumentasi adalah elemen penting dari survei yang dilakukan. Tapi sering diabaikan karena dianggap hanya sebagai pelengkap LHS,” jelasnya.
Faisal juga memaparkan hasil surveinya di Dermaga Samarinda Seberang, di mana ia menggunakan tiga tools untuk memetakan titik koordinat di tiga lokasi penting. Data tersebut ia ubah menjadi infografis dan statistik atraktif, yang mudah dipahami oleh publik awam.
“Bagi kami wartawan, selalu ada cerita di balik berita. Surveyor juga seperti itu — ada cerita di balik data,”— tandasnya sambil menunjukkan presentasi pengguna dan tiga nahkoda kapal di LHS setebal 20 halaman.
Praktik Lapangan: Dari Pasar Segiri Hingga Taman Cerdas
Di penghujung acara, para peserta tak hanya duduk dan mencatat. Mereka langsung turun ke lapangan untuk mempraktikkan ilmu yang didapat.
Lima lokasi dipilih sebagai titik survei, mulai dari Merak Square bertema kuliner, Pasar Segiri dengan fokus ekonomi, Taman Cerdas sebagai ruang terbuka hijau publik, Universitas Mulawarman bertema pendidikan, hingga Masjid Jami’ Al-Ma’ruf di Jalan Dr. Sutomo dengan tema keagamaan.
Suasana sore di Samarinda terasa hangat saat tiap tim kembali membawa hasil riset kecil mereka. Beberapa tertawa lepas membandingkan data, sementara yang lain sibuk memotret hasil observasi mereka.
Peran Perusahaan dalam Mendorong Kualitas Survei
Sementara itu, Direktur PT Andeskaraya Berdikari Inc, Chtya Arini, yang mewakili Direktur Utama Fajar Shahfuza, menegaskan pentingnya pelatihan semacam ini bagi para surveyor muda di perusahaannya.
“Kebutuhan survei di Andeskaraya memang bukan hanya secara verbal. Kami juga banyak menggunakan tools lain seperti drone dan lain-lain. Tapi teknik dasar seperti ini wajib dimiliki surveyor kami agar data yang dihasilkan juga berkualitas,” ungkap Chtya Arini.
Perusahaan yang berdiri sejak 2017 ini dikenal sebagai kontraktor dan konsultan yang telah menangani berbagai proyek strategis — dari tingkat kabupaten dan kota hingga proyek nasional, bahkan di kawasan Ibu Kota Negara (IKN). (red)


