BERANDA.CO, Tanah Laut – Dengan semangat menjaga lingkungan dan merawat bumi, Pesantren Al Kautsar di Desa Pulau Sari, Kecamatan Tambang Ulang, menggelar aksi penanaman pohon produktif dan peneduh beberapa waktu lalu. Kegiatan ini menjadi bagian dari program Pesantren Hijau—inisiatif berkelanjutan dari Nayaka Foundation—yang menggandeng banyak pihak demi mewujudkan pesantren sebagai pusat pembelajaran lingkungan hidup. Fokus program ini meliputi penanaman pohon, pelatihan pengelolaan sampah, konservasi air, hingga pertanian organik.
Mengusung semangat kolaborasi, kegiatan ini melibatkan Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Tanah Laut (Tala), Kecamatan Tambang Ulang, Aparat Desa Pulau Sari, serta seluruh civitas Pesantren Al Kautsar termasuk para santri dan dewan guru.
Sebanyak 50 bibit pohon ditanam di lahan terbuka sekitar pesantren. Jenisnya beragam, dari pohon buah seperti manggis, nangka, dan lengkeng, hingga peneduh seperti ketapang kencana, trambesi, dan mahoni. Harapannya, pohon-pohon ini tak hanya mempercantik kawasan, tetapi juga menyumbang udara bersih, keteduhan, dan manfaat ekonomi jangka panjang bagi pesantren.
“Ini bukan sekadar kegiatan simbolik, tapi bagian dari gerakan nyata untuk memperbaiki kualitas lingkungan hidup kita. Kami berharap kegiatan ini dapat direplikasi di desa dan lembaga pendidikan lainnya,” ujar Pengelola Informasi Lingkungan DPRKPLH Tala, Irza Rifani dalam sambutannya.
Sementara itu, Abdul Rahim, Campaign Director Nayaka Foundation, menegaskan pentingnya peran pesantren dalam ekologi sosial.
“Pesantren bukan hanya tempat mencetak pemimpin spiritual, tapi juga pemimpin masa depan yang peduli terhadap keberlangsungan bumi. Menanam pohon hari ini adalah investasi untuk kehidupan esok,” katanya.
Aksi tanam pohon ini pun menjadi ruang belajar langsung bagi santri, tidak hanya dari sisi teori, tapi melalui praktik nyata yang sarat makna.
Pihak pengurus Pesantren Al Kautsar menyambut dengan tangan terbuka dan menyelaraskan kegiatan ini dengan nilai-nilai Islam.
“Dalam Islam, merusak lingkungan adalah dosa, dan menjaga alam adalah bentuk ibadah. Kami ingin menanamkan nilai-nilai ini pada para santri, tidak hanya lewat kitab tapi juga lewat aksi nyata,” tandas Ustadz Mahfud.
Bersinergi untuk Bumi
Kegiatan ini mencerminkan sinergi nyata antara pemerintah, pesantren, dan komunitas peduli lingkungan. Tak hanya menanam pohon secara fisik, mereka juga sedang menanam nilai-nilai keberlanjutan ke dalam kesadaran generasi muda.
Pesantren Al Kautsar kini menjadi contoh konkret bahwa pelestarian lingkungan bisa dimulai dari lembaga pendidikan berbasis agama. Bahwa pesantren bukan hanya penjaga moral dan spiritual, tapi juga penjaga bumi. (red)
