BERANDA.CO — Pemanfaatan kecerdasan artifisial alias Artificial Intelligence (AI) di madrasah Kalimantan Timur mulai diarahkan bukan sekadar sebagai teknologi tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses pembelajaran. Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Kaltim mendorong madrasah mengintegrasikan kecerdasan artifisial secara terstruktur dan bertanggung jawab.
Kepala Bidang Pendidikan Madrasah (Kabid Penmad) Kanwil Kemenag Kaltim, Sabransyah, mengungkapkan transformasi digital menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan mutu pembelajaran di madrasah.
Menurutnya, kecerdasan artifisial kini mulai diperkenalkan kepada murid dan diakomodasi dalam kegiatan intrakurikuler. Penerapannya disesuaikan dengan karakteristik mata pelajaran, jenjang pendidikan, serta kesiapan murid.
“KA (Kecerdasan Artifisial: red) di madrasah saat ini bukan lagi sekadar wacana atau teknologi yang akan digunakan di masa depan,” ungkap Sabransyah saat dihubungi.
Ia menjelaskan, penggunaan AI tidak diarahkan sebatas membuat murid mahir menggunakan berbagai aplikasi. Teknologi tersebut diharapkan menjadi alat bantu untuk belajar, berpikir, mencari informasi, mengembangkan kreativitas hingga membantu menyelesaikan persoalan.
AI Bukan Pengganti Guru
Dalam penerapan pembelajaran berbasis AI, posisi guru tetap menjadi bagian penting. Guru tidak hanya dituntut mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga harus memahami bagaimana teknologi tersebut diintegrasikan ke dalam proses pedagogi.
Guru, bilang Sabransyah, tetap menjadi pengarah utama pembelajaran. Termasuk memberikan pemahaman kepada murid mengenai etika, keamanan, validitas informasi dan penggunaan AI secara bertanggung jawab.
Karena itu, transformasi digital madrasah diarahkan pada dua hal besar, yakni memperkuat kompetensi digital guru dan murid serta mengintegrasikan teknologi ke dalam proses pembelajaran.
Sabransyah menegaskan, madrasah tidak ingin melahirkan murid yang sekadar menjadi pengguna teknologi.
Targetnya adalah membentuk murid yang mampu menggunakan teknologi secara kritis, kreatif, produktif dan tetap beretika.
“Prinsipnya adalah, AI boleh digunakan untuk membantu proses berpikir, tetapi tidak boleh menggantikan proses berpikir,” tegasnya.
Kemenag Kaltim Bidik Pemerataan hingga Lulusan Berkarakter
Ke depan, transformasi digital madrasah di Kaltim tidak melulu diarahkan mengejar jumlah perangkat teknologi yang dimiliki sekolah.
Sabransyah mengatakan ada sejumlah sasaran yang ingin diperkuat, mulai dari pemerataan akses digital hingga peningkatan kompetensi guru.
Kesenjangan antara madrasah di kawasan perkotaan dan wilayah yang masih memiliki keterbatasan infrastruktur menjadi salah satu perhatian. Akses digital diharapkan dapat semakin merata sehingga perkembangan teknologi tidak hanya dinikmati madrasah dengan fasilitas yang lebih lengkap.
Selain itu, kemampuan guru juga perlu ditingkatkan. Guru diharapkan tidak berhenti pada kemampuan mengoperasikan aplikasi, tetapi mampu merancang pembelajaran berbasis teknologi sekaligus memanfaatkan AI secara pedagogis dan bertanggung jawab.
Dari sisi murid, penguatan literasi digital dan AI menjadi bagian penting. Peserta didik diharapkan mampu menggunakan teknologi secara kritis, kreatif, produktif, aman, dan beretika.
Transformasi digital juga diarahkan untuk mendukung pengelolaan data madrasah. Dengan data yang semakin baik, kebijakan pendidikan diharapkan dapat dibuat berdasarkan bukti atau evidence-based policy.
Pada akhirnya, Kemenag Kaltim ingin transformasi digital melahirkan lulusan yang mampu bersaing di tengah perkembangan teknologi tanpa kehilangan karakter.
“Hal tersebut sejalan dengan arah Kemenag Kaltim yang menekankan bahwa madrasah harus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, tetapi tetap unggul dalam iman, ilmu, dan akhlak,” pungkas Sabransyah.
