BERANDA.CO – Usia 35 tahun belum membuat Eko Roni Saputra menepi dari dunia Mixed Martial Arts alias MMA. Di tengah penantian kabar dari promotor baru, petarung asal Kalimantan Timur itu masih menjaga rutinitas latihan setiap hari. Di saat yang sama, ia mulai membagi pengalaman kepada anak-anak yang ingin belajar bela diri campuran.
Bagi Roni, menjadi atlet bukan sesuatu yang bisa dijalani setengah-setengah. Tubuh dan mental tetap harus dijaga meski belum ada jadwal pertandingan yang harus dipersiapkan.
“Alhamdulillah sekarang masih jadi atlet dan menunggu kabar promotor baru. Tetapi sambil mengisi waktu luang saya, berlatih dan melatih anak-anak untuk belajar MMA,” ujar Roni.
Aktivitas tersebut kini menjadi bagian dari kesehariannya. Selain tetap berlatih, Roni membuka kelas di Gym Alleon MMA.
Rutinitas itu sekaligus memperlihatkan bahwa perjalanan Roni belum berhenti pada pertandingan terakhir yang pernah dijalaninya.
Rindu Kembali ke Panggung Dunia
Setelah pernah merasakan atmosfer kompetisi internasional bersama ONE Championship, keinginan untuk kembali bertanding masih kuat.
Roni mengaku masih aktif sebagai atlet dan tidak menyembunyikan kerinduannya untuk kembali masuk ke arena MMA profesional.
“Untuk saat ini saya tetap aktif, tentunya saya merindukan untuk bertanding lagi di MMA. Apalagi di panggung dunia,” katanya.
Bahkan, kerinduan itu tidak hanya sebatas kembali bertanding. Roni juga ingin kembali merasakan proses latihan di luar negeri.
Ia mengaku sudah tidak sabar untuk kembali menjalani latihan keras di lingkungan yang memberikan tantangan baru.
Keinginan tersebut menunjukkan bahwa usia 35 tahun bagi Roni bukan penanda untuk berhenti mengejar target sebagai atlet.
Justru, masa jeda pertandingan saat ini ia gunakan untuk tetap menjaga kesiapan fisik sekaligus mempertahankan mental kompetitif yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan kariernya.
Latihan Setiap Hari, Karena Fisik Tak Datang Instan
Menjaga kondisi tubuh bagi Roni bukan sesuatu yang baru dimulai ketika pertandingan sudah di depan mata.
Ia mengaku tetap berlatih setiap hari.
Baginya, kondisi fisik dan mental tidak bisa dibentuk secara instan. Keduanya merupakan hasil dari proses yang membutuhkan konsistensi, disiplin, dan fokus.
“Saya selalu menjaga fisik saya, dan saya selalu berlatih setiap hari. Dan sambil mengisi waktu luang untuk mengajar MMA,” ujarnya.
Rutinitas tersebut menjadi cara Roni mempertahankan standar dirinya sebagai atlet sekaligus menjalankan peran baru sebagai pelatih.
Ada dua sisi yang berjalan bersamaan: mempersiapkan diri apabila kesempatan bertanding kembali datang dan membagikan pengalaman kepada atlet-atlet muda yang sedang belajar.
Dari Matras Gulat ke Dunia MMA
Jauh sebelum dikenal sebagai petarung MMA, Roni lebih dahulu membangun namanya melalui olahraga gulat.
Ia merupakan atlet gulat Kalimantan Timur sekaligus bagian dari tim nasional Indonesia. Dari cabang tersebut, Roni mencatatkan tiga medali emas PON secara berturut-turut dan beberapa kali tampil di SEA Games.
Perpindahan menuju MMA justru bermula dari sebuah tawaran yang datang setelah Asian Games.
Ketika itu, sebuah gym besar di Singapura menawarkan kesempatan kepada Roni untuk beralih ke MMA. Karena hanya memiliki latar belakang gulat dan belum terlalu mengenal dunia MMA, ia sempat mengira tawaran tersebut merupakan penipuan.
Namun, Roni akhirnya memberanikan diri menerima tawaran tersebut dan berangkat ke Singapura bersama istrinya.
Sesampainya di sana, tawaran tersebut ternyata benar-benar nyata. Bahkan, Roni menyebut dirinya langsung mendapat tawaran kontrak senilai Rp80 juta per bulan.
Perjalanan tersebut kemudian membawanya menjalani pengalaman profesional selama bertahun-tahun di Singapura.
Pengalaman Lima Tahun Kini Ingin Dibagikan
Pengalaman panjang tersebut kini tidak ingin disimpan sendiri.
Roni mengatakan dirinya ingin membagikan ilmu yang diperolehnya selama sekitar lima tahun berlatih bersama orang-orang yang memiliki pengalaman sebagai juara dunia di berbagai disiplin bela diri.
Lingkungan latihan tersebut memberinya kesempatan untuk belajar dari praktisi Muay Thai, Brazilian Jiu-Jitsu (BJJ), dan tinju dengan pengalaman di level dunia.
Kini, ilmu yang diperoleh dari perjalanan tersebut ingin ia teruskan kepada anak-anak yang dilatihnya.
“Tentunya saya ingin berbagi ilmu saya yang saya dapatkan selama pelatihan saya lima tahun berlatih bersama orang-orang profesional Muay Thai juara dunia, BJJ juara dunia, Boxing juara dunia,” kata Roni.
Bagi Roni, melatih bukan berarti meninggalkan ambisi sebagai petarung. Keduanya justru berjalan beriringan.
Ia masih menunggu kesempatan untuk kembali ke panggung dunia, tetapi pada saat yang sama mulai menyiapkan calon-calon petarung yang suatu hari mungkin akan mengikuti jejaknya.
Yang Dibutuhkan: Dukungan untuk Peralatan Latihan
Keinginan membangun generasi baru tersebut, menurut Roni, membutuhkan dukungan.
Salah satu kebutuhan yang ia soroti adalah dukungan sponsor untuk melengkapi sarana latihan.
“Sekarang yang saya butuhkan dukungan dari sponsor. Biar bisa punya alat untuk berlatih yang lengkap,” ujarnya.
Peralatan latihan yang memadai, menurutnya, dibutuhkan agar proses pembinaan anak-anak yang ia latih dapat berjalan lebih optimal dan menunjang prestasi mereka.
Di titik inilah perjalanan Roni memasuki babak yang berbeda.
Ia masih seorang petarung yang ingin kembali merasakan kerasnya persaingan panggung dunia MMA. Namun, ia juga mulai mengambil peran sebagai mentor bagi mereka yang baru mengenal olahraga tersebut.
Dari matras gulat Kalimantan Timur, perjalanan ke Singapura, pengalaman berlatih selama bertahun-tahun bersama atlet dan pelatih profesional, hingga panggung MMA internasional, Roni kini membawa pengalaman itu kembali ke tempat asalnya.
Usia 35 tahun belum menjadi akhir cerita.
Roni masih menunggu kesempatan berikutnya untuk bertanding. Sambil menunggu pintu arena kembali terbuka, ia memilih tetap berlatih, mengajar, dan menularkan ilmu.
Sebab bagi seorang atlet, perjalanan tidak selalu tentang berapa banyak pertandingan yang sudah dilewati.
Kadang, perjalanan berikutnya justru tentang apa yang bisa diwariskan kepada generasi setelahnya.
