BERANDA.CO, Banjarbaru – Di sebuah kawasan yang selama puluhan tahun dikenal lewat suara ayunan dulang dan cerita para pencari intan, muncul sebuah gagasan baru, “bagaimana jika kehidupan masyarakat itu sendiri menjadi museum”?
Bukan museum dengan ruangan sunyi, kaca pajangan, dan benda-benda yang hanya dilihat dari kejauhan. Melainkan museum yang hidup — tempat tradisi, manusia, pekerjaan, cerita masa lalu, dan aktivitas sehari-hari menjadi bagian dari pengalaman publik.
Gagasan itulah yang kini dibawa Pemerintah Kota Banjarbaru melalui konsep Cempaka Living Museum di Kecamatan Cempaka, kawasan yang selama ini lekat dengan sejarah pendulangan intan Banjar.
Bagi sebagian orang, ini bukan sekadar proyek wisata. Ini adalah upaya mengubah cara sebuah daerah menceritakan dirinya sendiri.
Selama bertahun-tahun, Cempaka dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki hubungan kuat dengan tradisi pendulangan intan. Cerita tentang para pendulang, kehidupan masyarakat sekitar, hingga sejarah ditemukannya Intan Trisakti menjadi bagian dari identitas budaya daerah.
Namun, di era ketika banyak daerah berlomba mencari daya tarik wisata baru, pertanyaannya bukan hanya “apa yang dimiliki?”, tetapi juga “bagaimana cerita itu dikemas dan siapa yang mendapatkan manfaatnya?”
Di titik inilah konsep living museum menjadi menarik untuk dibahas.
Pemerintah daerah mencoba membawa narasi bahwa budaya lokal bukan sekadar peninggalan masa lalu, tetapi aset yang bisa menjadi ruang edukasi, ekonomi kreatif, dan pengalaman wisata.
Pesan dari gagasan ini jelas, Banjarbaru ingin menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga tentang identitas dan warisan budaya.
Beberapa saat mungkin ide ini mendapat perhatian, Cempaka Living Museum dibawa dalam komunikasi pemerintahan. Secara politik komunikasi, langkah ini memiliki nilai strategis.
Sebuah program daerah akan lebih mudah mendapatkan perhatian publik ketika memiliki cerita yang kuat. Dan Cempaka memiliki elemen yang cukup kuat, yakni manusia, sejarah, tradisi, serta simbol berupa intan yang selama ini memiliki nilai ekonomi dan emosional bagi masyarakat Banjar.
Narasi yang dibangun bukan hanya “membuat tempat wisata baru”, tetapi “menghidupkan kembali cerita yang sudah ada”.
Namun, setiap cerita besar selalu memiliki tantangan.
Di balik potensi besar tersebut, ada pertanyaan penting yang perlu dijawab.
Apakah masyarakat lokal benar-benar menjadi aktor utama dalam konsep ini?
Sebab sebuah living museum berbeda dengan objek wisata biasa. Nilainya justru berada pada kehidupan masyarakat yang menjadi bagian dari kawasan tersebut.
Jika masyarakat hanya ditempatkan sebagai tontonan bagi wisatawan, maka konsep tersebut berisiko kehilangan makna. Budaya bisa berubah menjadi sekadar pertunjukan, sementara masyarakat asli hanya menjadi latar belakang.
Sebaliknya, jika masyarakat dilibatkan sebagai pengelola, pelaku ekonomi, dan pemilik cerita, konsep ini memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.
Di sinilah tantangan terbesar pemerintah: bukan hanya menjual cerita tentang intan, tetapi memastikan bahwa orang-orang yang menjaga cerita itu tetap mendapatkan ruang.
Dari perspektif komunikasi publik, Cempaka Living Museum juga menunjukkan perubahan cara pemerintah daerah membangun citra wilayah.
Dulu, promosi daerah sering berfokus pada pembangunan fisik seperti jalan, gedung, kawasan perdagangan, atau fasilitas umum.
Kini, banyak daerah mulai memahami bahwa identitas juga merupakan modal politik dan ekonomi.
Sebuah kota tidak hanya dikenang karena apa yang dibangun, tetapi juga karena cerita yang mampu ia tawarkan.
Banjarbaru tampaknya sedang mencoba membangun cerita tersebut melalui Cempaka.
Tetapi cerita yang baik tetap membutuhkan bukti.
Salah satu pekerjaan besar berikutnya adalah memastikan konsep ini tidak berhenti sebagai slogan.
Masih ada banyak hal yang perlu dibuktikan, bagaimana model pengelolaannya, bagaimana manfaat ekonomi dibagi, bagaimana menjaga lingkungan kawasan, serta bagaimana suara masyarakat pendulang masuk dalam proses pengambilan keputusan.
Tanpa perencanaan yang matang, sebuah program budaya bisa menghadapi risiko klasik, yakni ramai di awal, tetapi kehilangan daya tahan dalam jangka panjang.
Pengalaman banyak kawasan wisata menunjukkan bahwa keberhasilan bukan hanya ditentukan oleh seberapa menarik sebuah cerita, tetapi juga seberapa kuat sistem yang menopangnya.
Cempaka Living Museum pada akhirnya bukan hanya tentang intan yang ditemukan dari tanah.
Ini tentang bagaimana sebuah daerah menggali kembali nilai dari sesuatu yang selama ini sudah ada.
Intan mungkin menjadi simbol masa lalu, tetapi tantangan sebenarnya adalah bagaimana menjadikannya cahaya untuk masa depan.
Sebab warisan budaya tidak cukup hanya disimpan. Ia harus diberi ruang untuk hidup — bersama masyarakat yang menjadi pemilik ceritanya.
(red)
