BERANDA.CO – Borneo International Fashion Festival (BIFF) menjadi langkah strategis Kalimantan Timur untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif Kaltim sekaligus membuka peluang bagi karya lokal, termasuk wastra, kriya, dan talenta muda agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Ririn Sari Dewi, mengatakan penyelenggaraan BIFF tahun ini menjadi momentum penting bagi daerah di tengah kondisi keterbatasan fiskal. Menurutnya, penguatan kolaborasi antar-jejaring menjadi kunci untuk menjaga keberlanjutan pengembangan industri kreatif.
“Di tengah keterbatasan fiskal, salah satu entry point adalah penguatan ekosistem. Bagaimana kita menggunakan ekosistem ini untuk memajukan fast track yang ada di Kalimantan Timur,” ujar Ririn.
Ia menjelaskan, kolaborasi melalui BIFF menjadi salah satu upaya memperluas penetrasi pasar, termasuk kerja sama dengan pihak Australia melalui pendekatan bisnis ke bisnis (business to business/B2B).
Menurut Ririn, Kaltim tidak hanya dikenal melalui pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), tetapi juga memiliki potensi besar dalam sektor kreatif, khususnya industri wastra dan kriya.
“Ini menjadi momentum bagi kita untuk membranding bahwa Kalimantan Timur tidak hanya karena IKN, tetapi juga maju melalui penguatan ekosistem, wastra, kriya, dan sektor kreatif lainnya,” katanya.
Ririn menambahkan, keberhasilan BIFF 2026 membutuhkan sinergi antara Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur, Dekranasda, dunia usaha, perusahaan daerah, perbankan, serta berbagai mitra strategis lainnya.
“Kita tetap eksis, tetap bisa optimis, berani melangkah dalam memajukan industri ekonomi kreatif, industri wastra, dan kolaborasi antara pemerintah provinsi, Dekranasda, jajaran mitra, perusahaan, Perusda, perbankan, menjadi satu hal yang menjadikan group change kita ke depan Kaltim tetap maju dan menuju generasi emas,” tegasnya.
Sementara itu, Chairman sekaligus Founder BIFF, Yulia Hadi, berharap event ini mampu menjadi katalis bagi pelaku UMKM lokal agar semakin mandiri dan memiliki daya saing lebih tinggi.
Menurutnya, karya kreatif dari Kalimantan Timur tidak hanya harus berhenti di pasar daerah, tetapi juga memiliki peluang untuk diapresiasi di tingkat nasional maupun internasional.
Ia juga mengajak dunia usaha, sponsor, serta mitra strategis untuk bersama-sama membangun ekosistem industri kreatif yang berkelanjutan.
“Kami tidak hanya mencari rekanan, tetapi mencari mitra yang memiliki visi yang sama untuk membangun ekosistem industri kreatif berkelanjutan,” kata Yulia.
BIFF, lanjutnya, menjadi penghubung antara budaya dan inovasi, sekaligus mempertemukan kreativitas lokal dengan peluang global.
Yulia mengajak generasi muda, desainer, dan pelaku industri kreatif agar berani menunjukkan karya serta memperluas mimpi mereka.
“Jangan pernah takut menunjukkan karyamu. Jangan pernah ragu untuk bermimpi lebih besar,” pesannya.
BIFF dijadwalkan berlangsung pada 1–4 Oktober 2026 di Odah Etam, Kantor Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Samarinda.
