BERANDA.CO, Samarinda – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalimantan Timur (Kaltim) telah mengklarifikasi bahwa hingga Rabu (25/10) lalu, belum ada temuan kasus Monkeypox atau cacar monyet di Benua Etam.
Hingga pada Rabu tanggal 25 Oktober lalu di Kaltim belum ada temuan kasus cacar monyet. Hal ini diungkapkan Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Kesehatan.
Kepala Dinkes kaltim dr Jaya Mualimin menyatakan merasa lega bahwa hingga saat ini belum ada kasus yang terkonfirmasi di Kaltim. Kendati demikian ia menekankan pentingnya tetap waspada dan meningkatkan kewaspadaan di masyarakat meskipun belum ada laporan terkait penyakit ini di Kaltim.
“Tapi kita tetap meningkatkan kewaspadaan. Dengan cara melaporkan ada atau tidaknya penyakit cacar monyet ini setiap minggu, untuk meningkatkan kewaspadaan dini di masyarakat,” tegasnya.
Penyakit Monkeypox sendiri merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Monkeypox. Gejala penyakit ini umumnya ringan, dan penyakit ini dapat menular melalui kontak langsung dengan individu yang terinfeksi atau hewan yang membawa virus ini.
Jaya Mualimin menjelaskan gejala penyakit cacar monyet ini berlangsung selama 2-4 minggu, dan penyakit ini juga dapat menular melalui benda yang terkontaminasi oleh virus Monkeypox.
Dalam kasus ada indikasi Monkeypox, pihak berwenang akan segera melakukan pengujian lebih lanjut melalui sampel darah untuk diagnosis. Ia mengimbau kepada masyarakat untuk segera melaporkan kepada fasilitas kesehatan terdekat jika terdapat kasus yang dicurigai terinfeksi Monkeypox.
“Melalui sampel darah untuk dilakukan pemeriksaan. Jika hasilnya negatif, itu mungkin bukan cacar. Namun, jika hasilnya positif, itu adalah tanda bahwa Monkeypox telah masuk ke,” terangnya.
Selain itu, jika ada kasus Monkeypox yang terkonfirmasi, pihak medis akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan memberikan perawatan yang sesuai.
dr Jaya Mualimin menagaskan, seiring dengan perkembangan kasus Monkeypox di beberapa daerah, kewaspadaan dan pengetahuan masyarakat terkait penyakit ini sangat penting. Edukasi dan informasi yang akurat dapat membantu dalam pencegahan penyebaran penyakit tersebut, serta meminimalkan dampak kesehatan masyarakat.
“Kalau ada terindikasi ada pasien dirawat atau ditemukan sebaiknya dilaporkan ke puskesmas untuk antisipasi. Karena virus kan engga lama,” imbaunya. (adv)


