BERANDA.CO — Rute Jelajah Intan Trisakti di Banjarbaru disiapkan untuk membawa pengunjung mengenal lebih dekat sejarah pendulangan, kehidupan masyarakat, kekayaan alam, hingga budaya lokal yang berkembang di kawasan Pumpung.
Ketua Harian Komite Ekonomi Kreatif Kota Banjarbaru, Narwanto, mengungkap terdapat delapan titik penting yang menjadi bagian dari rute tersebut. Perjalanan dimulai dari Pumpung Creative Space dan berakhir di titik utama lokasi penemuan Intan Trisakti.
Tidak hanya menyajikan lanskap bekas pendulangan, rute ini juga memperkenalkan sawah padi lokal Banjar, batu akik sisa pendulangan, kayu ulin purba, tanaman pangan lokal hingga pohon jingah yang berkaitan dengan peralatan tradisional pendulangan intan.
Pumpung Creative Space Jadi Titik Awal
Narwanto mengatakan perjalanan dimulai dari Pumpung Creative Space yang menjadi titik awal sekaligus ruang utama untuk mengenal kawasan Pumpung, masyarakat dan aktivitas kreatif yang berkembang di dalamnya.
Di lokasi ini, pengunjung dapat menemukan sejumlah fasilitas dan potensi lokal, mulai dari koleksi pohon ramania, pohon kopi, balai pertemuan, amfiteater outdoor, galeri karya hingga dapur tradisional terbuka.
Tersedia pula warung tradisional, camping ground dan spot pancing yang dapat menjadi bagian dari pengalaman pengunjung selama berada di kawasan tersebut.
“Pertama, Pumpung Creative Space sebagai titik awal sekaligus ruang inti untuk mengenal Pumpung, masyarakat dan berbagai aktivitas kreatif yang berkembang,” kata Narwanto saat dihubungi.
Menyusuri Jejak Pendulangan Tradisional
Dari Pumpung Creative Space, perjalanan berlanjut menuju kawasan bekas atau lanskap pendulangan tradisional.
Di lokasi tersebut terdapat bekas lubang pendulangan dan danau yang kini masih memiliki fungsi penting bagi masyarakat sekitar, termasuk sebagai sumber pangan warga lokal.
Rute kemudian melewati persawahan yang masih aktif digunakan masyarakat untuk menanam padi lokal Banjar.
Kehadiran sawah tersebut menjadi bagian dari cerita yang ingin diangkat dalam perjalanan, bahwa kehidupan masyarakat Pumpung tidak hanya berkaitan dengan sejarah pendulangan intan, tetapi juga aktivitas pertanian dan pemanfaatan sumber daya lokal.
Ada Batu Akik hingga Ulin Purba
Keunikan lain ditemukan pada keberadaan batu-batu akik yang merupakan sisa aktivitas pendulangan dan menjadi salah satu ciri khas kawasan Pumpung.
Pengunjung juga akan diperkenalkan dengan deretan kayu ulin purba yang sebelumnya ditemukan para pendulang intan pada kedalaman sekitar 20 hingga 30 meter.
Keberadaan kayu tersebut menjadi bagian dari cerita tentang kondisi alam dan lapisan tanah yang ditemukan dalam aktivitas pendulangan tradisional.
“Keempat, terdapat batu-batu akik sisa pendulangan yang menjadi khas Pumpung. Kelima, deretan kayu ulin purba yang sebelumnya ditemukan di kedalaman 20-30 meter oleh para pendulang intan,” jelas Narwanto.
Mengenal Pangan Lokal dan Peralatan Pendulangan
Rute Jelajah Intan Trisakti juga membawa pengunjung mengenal tanaman yang selama ini menjadi bagian dari sumber pangan masyarakat.
Salah satunya adalah supan-supan yang tumbuh subur di kawasan sekitar jalur jelajah.
Selain itu, terdapat pohon jingah yang memiliki kaitan dengan tradisi pendulangan intan. Kayu dari pohon tersebut menjadi bahan baku salah satu peralatan tradisional pendulangan, yakni linggangan.
Dengan demikian, perjalanan tidak hanya menceritakan bagaimana intan dicari, tetapi juga memperlihatkan berbagai unsur alam yang mendukung kehidupan dan aktivitas masyarakat di kawasan Pumpung.
Berakhir di Lokasi Penemuan Intan Trisakti
Puncak perjalanan berada di titik utama lokasi penemuan Intan Trisakti.
Lokasi tersebut menjadi bagian penting dari narasi perjalanan karena menjadi titik yang menghubungkan seluruh cerita mengenai Pumpung, mulai dari sejarah pendulangan hingga kehidupan masyarakat yang berkembang di sekitarnya.
Narwanto menyebut seluruh titik dalam rute akan dilengkapi dengan teknologi digital untuk membantu pengunjung memahami cerita di setiap lokasi.
Melalui QR code tersebut, pengunjung tidak hanya melihat lokasi secara langsung, tetapi juga dapat mengakses narasi mengenai sejarah, budaya dan potensi yang terdapat di sepanjang Rute Jelajah Intan Trisakti.
Konsep ini membuat perjalanan di Pumpung tidak berhenti pada aktivitas wisata, tetapi menjadi pengalaman untuk mengenal kehidupan masyarakat dan kekayaan lokal secara lebih utuh.
“Dari semua spot terdapat QR code yang bisa di-scan untuk membaca narasi oleh pengunjung yang terkoneksi menuju website Cempaka Living Museum,” tandasnya.


