Home ASTRA MOTOR KALTIM Sering Tahan Gas di Tanjakan? Ini Risiko Besar yang Mengintai Motor Anda

Sering Tahan Gas di Tanjakan? Ini Risiko Besar yang Mengintai Motor Anda

0
Bahaya tahan gas di tanjakan bisa merusak motor dan picu kecelakaan. (FOTO: Esti)

BERANDA.CO, Samarinda – Di balik padatnya aktivitas di jalanan Samarinda, tersimpan tantangan yang tidak bisa dianggap sepele. tahan gas di tanjakan, terutama bagi para pengendara yang setiap hari melintasi jalanan dengan kontur beragam—mulai dari datar, menanjak, hingga turunan tajam.

Bagi sebagian orang, medan seperti ini mungkin sudah menjadi rutinitas. Namun tanpa disadari, kebiasaan kecil saat berkendara justru bisa berdampak besar terhadap kondisi motor. Salah satunya adalah kebiasaan menahan laju motor di tanjakan dengan tetap menarik gas sambil menekan rem—praktik yang terlihat sepele, tetapi menyimpan risiko tersembunyi.

Fenomena ini banyak terjadi di jalan-jalan menanjak Samarinda. Saat posisi motor berhenti di tanjakan, refleks pengendara sering kali langsung menarik gas agar kendaraan tidak mundur. Padahal, cara ini justru menimbulkan tekanan berlebih pada mesin dan komponen lainnya.

“Salah satu kebiasaan yang kurang baik yang berdampak pada beberapa komponen sepeda motor adalah Saat berada di tanjakan, sebagian pengendara menahan motor agar tidak mundur dengan cara tetap menarik gas sambil menekan rem,” ungkap Ignatius Nindyatama selaku Technical Service Manager Astra Motor Kalimantan Timur 2.

Ia menegaskan, kebiasaan tersebut bukan hanya berdampak pada performa kendaraan, tetapi juga berisiko terhadap keselamatan pengendara.

“Meskipun terlihat membantu, kebiasaan ini justru bisa merugikan sepeda motor Anda dan berisiko terhadap keselamatan” tambah Nindya.

Secara teknis, saat gas tetap ditarik sementara rem menahan roda, mesin terus menghasilkan tenaga tanpa pergerakan. Kondisi ini membuat beberapa komponen bekerja di luar batas normal. Dampaknya pun tidak main-main.

Pada motor matic, gesekan berlebih dapat menyebabkan kampas kopling lebih cepat aus, sistem CVT mengalami panas berlebih (overheat), hingga penurunan respons tarikan. Bahkan, konsumsi bahan bakar pun menjadi lebih boros.

Sementara itu, pada motor manual atau kopling, risiko yang muncul tak kalah serius. Kampas kopling bisa cepat habis, mesin lebih cepat panas, performa menurun, hingga potensi motor meloncat saat rem dilepas—situasi yang jelas membahayakan, terutama di jalanan padat.

Di sinilah pentingnya memahami teknik berkendara yang tepat. Alih-alih menahan gas, pengendara disarankan menggunakan rem untuk menjaga posisi motor tetap stabil di tanjakan. Saat hendak melanjutkan perjalanan, lepaskan rem secara perlahan, lalu tarik gas dengan halus agar perpindahan tenaga berjalan optimal.

Kebiasaan sederhana ini bukan hanya menjaga keawetan motor, tetapi juga meningkatkan keselamatan selama berkendara. Terlebih di kota dengan karakter jalan yang dinamis seperti Samarinda, kesadaran berkendara menjadi kunci utama.

Perawatan rutin juga tidak kalah penting. Melakukan servis berkala di bengkel resmi seperti AHASS membantu memastikan setiap komponen motor tetap dalam kondisi prima.

Pada akhirnya, berkendara bukan sekadar soal sampai tujuan, tetapi bagaimana perjalanan itu tetap aman, nyaman, dan efisien. Mengubah kebiasaan kecil hari ini bisa menjadi investasi besar untuk keselamatan dan umur panjang kendaraan di masa depan. (red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version