Home BERITA KALTIM Dari TPS Pasar Nala, BIMBIM 123 Kini Kelola 10 Ton Sampah per...

Dari TPS Pasar Nala, BIMBIM 123 Kini Kelola 10 Ton Sampah per Hari

0
Momen Penyerahan Seragam APD baru oleh Pihak Outsourcing kepada CEO TPS3R BIMBIM 123, Chairul Anwar. (Foto: Syahril)

BERANDA.CO, Kutai Barat — Tempat Pengolahan Sampah Berbasis Reuse, Reduce, Recycle Bigung Inovasi Mandiri alias TPS3R BIMBIM 123 kini mengelola sekitar 10 ton sampah setiap hari di sejumlah wilayah Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Pengelolaan tersebut bermula dari keresahan warga setelah Tempat Penampungan Sementara (TPS) Pasar Nala di Kecamatan Linggang Bigung ditutup pada awal 2025.

Founder sekaligus Chief Executive Officer (CEO) TPS3R BIMBIM 123, Chairul Anwar yang akrab disapa Arya, mengatakan TPS Pasar Nala pada awalnya diperuntukkan sebagai fasilitas penampungan sampah kawasan pasar. Namun, seiring waktu, masyarakat dari 11 kampung di Kecamatan Linggang Bigung ikut memanfaatkan lokasi tersebut.

Kondisi itu membuat fungsi TPS perlahan berubah. Sampah yang masuk tidak lagi hanya berasal dari aktivitas pasar, tetapi juga menampung sampah rumah tangga dari berbagai kampung.

“TPS Pasar Nala diperuntukkan untuk fasilitas area pasar, tetapi semakin hari waktu berjalan, masyarakat mulai tahu di situ TPS. Hari demi hari, tahun demi tahun, seluruh 11 kampung yang ada di Kecamatan Linggang Bigung akhirnya menitipkan semua sampah ke TPS Pasar Nala tersebut,” ujar Arya saat dihubungu awak mediai ini.

Volume sampah yang terus bertambah membuat pengelola pasar dan pihak kampung kewalahan. Bahkan, tumpukan sampah disebut sempat meluber hingga badan jalan.

Persoalan semakin kompleks ketika hujan turun. Sampah yang menumpuk dapat terbawa air hingga ke jalan dan permukiman warga. Situasi tersebut kemudian memunculkan pro dan kontra di tengah masyarakat terkait keberadaan TPS di lokasi tersebut.

Berawal dari Penutupan TPS Pasar Nala

Arya mengaku sebagai warga Linggang Bigung dirinya sempat tidak percaya TPS Pasar Nala akan benar-benar ditutup. Sebab, lokasi tersebut telah menjadi tempat warga membuang sampah selama bertahun-tahun.

Namun, pada Rabu, 1 Januari 2025, TPS tersebut akhirnya resmi ditutup oleh pengelola pasar dan pihak kampung.

Setelah penutupan, Arya mempertanyakan solusi pengelolaan sampah bagi warga. Saat itu, masyarakat diminta mengelola sampah rumah tangga secara mandiri.

Pada malam harinya, Arya menghadiri kegiatan di salah satu masjid di kawasan Pasar Nala. Seusai kegiatan, sejumlah ibu-ibu warga berkumpul dan membicarakan persoalan sampah pascapenutupan TPS.

Mereka kemudian meminta bantuan agar ada solusi pengelolaan sampah, khususnya bagi warga di wilayah Kampung Linggang Bigung.

Arya mengaku saat itu belum memiliki pengalaman dalam mengelola persampahan. Namun, ia memilih bergerak dengan tiga prinsip sederhana yang kemudian menjadi bagian dari identitas BIMBIM 123.

“Bismillah, bantu masyarakat, jaga lingkungan,” katanya.

Hibahkan Tanah untuk Penampungan Sampah

Langkah awal dilakukan dengan mendatangi pihak pengelola pasar. Dukungan kemudian diberikan untuk membantu mengatasi persoalan sampah warga.

Persoalan berikutnya adalah lokasi. Tidak ada warga yang bersedia menyediakan lahannya untuk dijadikan tempat penampungan sampah.

Arya akhirnya mengambil keputusan untuk menghibahkan sebagian tanah miliknya sebagai lokasi penampungan sampah.

“Saya menghibahkan sebagian tanah saya untuk tempat penampungan sampah. Dikarenakan pada saat itu tidak ada warga yang mau lahannya untuk penampungan sampah,” ungkapnya.

Menurut Arya, keputusan tersebut diambil semata-mata karena ingin membantu masyarakat dan menjaga lingkungan.

Namun, perjalanan awal pengelolaan sampah tidak berjalan mudah. Sampah yang masuk terus bertambah, sementara pengetahuan tentang teknik pengelolaan sampah masih terbatas.

Sampah memang telah dipilah dan diolah, tetapi sebagian residu akhirnya dibakar karena belum mengetahui metode pengelolaan yang tepat.

“Jujur pada awalnya kami juga kebingungan. Sampah hari ini tidak habis, bertambah lagi dan terus bertambah. Sudah kami pilah, sudah kami olah, dan akhirnya kami bakar. Ternyata tidak habis juga,” ujarnya.

Belajar dari DLH

Persoalan tersebut mendorong Arya mencari bantuan teknis. Ia memperoleh nomor kontak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) melalui Petinggi Kampung Linggang Bigung.

Pertemuan kemudian dilakukan dengan pihak DLH. Dalam pertemuan itu, Arya bertemu Kepala Bidang DLH, Jhosua Silaban.

Menurut Arya, pertemuan tersebut menjadi titik penting bagi pengembangan pengelolaan sampah BIMBIM 123. Ia memperoleh pengetahuan mengenai pengelolaan sampah sekaligus bantuan berupa timbangan dan bak arm roll untuk mengangkut residu menuju tempat pemrosesan akhir (TPA).

Dari proses tersebut, pengelolaan sampah yang awalnya dilakukan dengan keterbatasan perlahan berkembang menjadi sistem yang lebih terstruktur.

Nama BIMBIM sendiri berasal dari suara klakson kendaraan pengangkut sampah. Sementara BIM merupakan singkatan dari Bigung Inovasi Mandiri.

Adapun angka 123 dalam BIMBIM 123 merujuk pada tiga prinsip yang menjadi landasan gerakan tersebut, yakni Bismillah, Bantu Masyarakat, dan Jaga Lingkungan.

Kelola Sampah dari Tiga Kecamatan

Saat ini, TPS3R BIMBIM 123 dipercaya mengelola sampah di 10 kampung di Kecamatan Linggang Bigung. Pengelolaan juga mencakup Kampung Tering Seberang di Kecamatan Tering.

Selain itu, terdapat tiga truk sampah dari Kecamatan Barong Tongkok yang masuk setiap hari atas arahan pihak DLH.

Total sampah yang dikelola mencapai sekitar 10 ton per hari.

Untuk menjalankan operasional tersebut, BIMBIM 123 membagi pekerjaan ke dalam divisi pengangkutan dan pemilahan.

Divisi angkut memiliki delapan petugas yang terdiri dari dua pengemudi dan enam juru angkut. Mereka mulai bekerja sekitar pukul 05.30 WITA untuk menyisir sampah warga di 10 kampung.

Sementara divisi pilah melibatkan 30 petugas. Mereka terbagi dalam beberapa tugas, mulai dari memindahkan sampah dari tumpukan awal ke meja pilah, memilah sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), hingga mengolah residu.

Dari lima meja pilah yang tersedia, setiap meja diisi tiga petugas untuk melakukan pemilahan.

Untuk residu, BIMBIM 123 menggunakan kontainer arm roll yang kemudian dibawa ke TPA berdasarkan sumber sampah dari masing-masing wilayah.

Rata-rata terdapat tiga arm roll residu yang diangkut ke TPA setiap hari, berasal dari Kecamatan Barong Tongkok, Linggang Bigung, dan Tering.

Arya menyebut proses pemilahan saat ini mampu mengurangi sekitar separuh sampah yang harus dibawa ke TPA.

“Dari catatan kami, sampah yang terpilah bisa mencapai 50 persen. Contohnya, sampah masuk 10 ton, sampah residu ke TPA lima ton,” jelasnya.

Operasional Mengandalkan Iuran dan Hasil Olahan

Untuk membiayai kegiatan, TPS3R BIMBIM 123 mengandalkan iuran kebersihan bulanan serta hasil pengolahan sampah.

Pembayaran iuran dilakukan melalui transfer bank BRI. Arya menegaskan petugas lapangan dilarang menerima pembayaran secara tunai dari masyarakat.

Menurutnya, keberlangsungan pengelolaan sampah tidak hanya bergantung pada petugas. Kesadaran masyarakat dan kedisiplinan petugas menjadi bagian penting dalam menjaga sistem tetap berjalan.

Di sisi lain, BIMBIM 123 masih membutuhkan tambahan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kapasitas pengelolaan.

Sejumlah peralatan yang dibutuhkan antara lain mesin pres, mesin pencacah, alat pirolisis, conveyor, bentor, serta tambahan satu unit mobil pikap untuk mendukung mobilitas pengangkutan sampah.

Bidik Zero Waste

Ke depan, BIMBIM 123 menargetkan pengelolaan sampah yang lebih maksimal hingga mendekati konsep zero waste.

Target tersebut berarti sampah yang masuk diupayakan dapat dikelola semaksimal mungkin sehingga beban sampah yang berakhir di TPA dapat ditekan.

Arya menilai target tersebut tidak dapat dicapai hanya oleh pengelola. Dibutuhkan keterlibatan masyarakat dan dukungan pemerintah.

Masyarakat, menurutnya, perlu mendapatkan edukasi mengenai pengelolaan sampah mulai dari tingkat kampung, sekolah hingga kelompok PKK.

Sementara pengelola membutuhkan dukungan peralatan pengolahan sampah yang lebih modern agar proses pemilahan dan pengolahan dapat berjalan optimal.

“Semua itu dibutuhkan kerja sama masyarakat, pengelola dan pemerintah,” tegas Arya.

Ia berharap kebijakan pemerintah juga semakin mendukung para pengelola sampah di daerah agar mampu meningkatkan kapasitas pengolahan dan mengurangi ketergantungan terhadap TPA.

Bagi Arya, perjalanan BIMBIM 123 yang bermula dari keterbatasan justru menunjukkan bahwa persoalan sampah dapat menjadi ruang untuk membangun gerakan bersama.

“Dari keresahan warga setelah penutupan TPS Pasar Nala, pengelolaan sampah kini berkembang menjadi aktivitas yang melibatkan puluhan pekerja dan menangani sekitar 10 ton sampah setiap hari,” tandasnya.

(Abe/Red)

Facebook Comments Box
Exit mobile version